Kenangan tentangmu masih utuh di
sini. Seumpama embun pagi tetap hangat terpanasi cahaya jingga. Tapak-tapak
kakimu seolah masih meninggalkan debu yang sulit untuk ku hapus. Gambar dirimu
dalam bingkai hitam masih elegan. Meski harus kuletakkan dalam laci, senyum
manis sembari kau tamppakkan gigi-gigi putihmu masih sering mengubah saat senja
ceriaku menjadi muram dan kelabu. Kelakianku seolah palsu oleh tangisku yang
tiba-tiba deras. 3 tahun telah engkau berlalu dari masa dan hari-hariku. Namun
semuanya terasa kemarin saat beberapa bagian tempat dan benda berhubungan
tentangmu.
Mengapa terlalu sulit? Bukankah semua
harusnya telah usai? Harusnya wujudmu tak menjadikan benakku seperti inang
hingga kau tetap membenalu. Aku bukan benci tentangmu, aku benci diriku yang
tak lagi mampu jatuh cinta. Tak lagi mampu terbuka dengan lembaran putih
lainnya.
Di hari lainnya aku belajar
berbenah. Mencoba meniti jalan baru menemukan wajah-wajah lainnya.

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusEa..ea..ea
BalasHapusMeleleh
BalasHapusMeleleh
BalasHapus