5 hari lagi kabupaten kepulauan
selayar akan terpilih bupati barunya. Bertepatan hari ini pula maka diadakan
debat publik calon bupati dan wakil bupati. Jam 4 sore tadi saya berkesempatan
berada di tempat dilaksanakannya debat tersebut sebagai perwakilan sekolah dan
membawa beberapa Siswa dari OSIS.
Seperti biasa, akan ada suatu momen yang menurut saya menggelikan setiap saya mengikuti sebuah event. Demikian pula saat saya berada di ruang pola kantor bupati selayar tempat berlangsungnya debat. Momen memalukan itu adalah saat kami nyelonong sotoy duduk di barisan kursi yang telah disediakan yang ternyata kursi tersebut adalah kursi para pendukung calon bupati. Tentu saja mereka akan memelototi kami dengan dengan pangan heran sebab dengan santainya saya mempersilahkan anak didik saya duduk di kursi tersebut yang setelah saya sadari beberapa detik kemudian dresscode kami beda sebab gak ada tulisan nama calon bupati dukungan. Dengan cekatan saya bangkit dan berlalu meninggalkan bocah yang salah tempat duduk menuju lantai dua tempat yang seharusnya. Ternyata di tempat tersebut panasnya minta ampun. Saya yakin kalo yang kentut baunya akan lain sebab akan tercampur rapi dan rata bersama bau keringat-ketek-farfum. Semua undangan telah mengubah kotak snek mereka menjadi kipas praktis.
Seperti biasa, akan ada suatu momen yang menurut saya menggelikan setiap saya mengikuti sebuah event. Demikian pula saat saya berada di ruang pola kantor bupati selayar tempat berlangsungnya debat. Momen memalukan itu adalah saat kami nyelonong sotoy duduk di barisan kursi yang telah disediakan yang ternyata kursi tersebut adalah kursi para pendukung calon bupati. Tentu saja mereka akan memelototi kami dengan dengan pangan heran sebab dengan santainya saya mempersilahkan anak didik saya duduk di kursi tersebut yang setelah saya sadari beberapa detik kemudian dresscode kami beda sebab gak ada tulisan nama calon bupati dukungan. Dengan cekatan saya bangkit dan berlalu meninggalkan bocah yang salah tempat duduk menuju lantai dua tempat yang seharusnya. Ternyata di tempat tersebut panasnya minta ampun. Saya yakin kalo yang kentut baunya akan lain sebab akan tercampur rapi dan rata bersama bau keringat-ketek-farfum. Semua undangan telah mengubah kotak snek mereka menjadi kipas praktis.
Saat acara dimulai yang diawali
dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, seorang bapak di barisan kedua di depan
saya berusaha berjinjit agar pandangannya mampu menjangkau layar raksasa dan
dekorasi ruangan debat di lantai dasar yang kurang lebih mirip studio TV. Kesialannya
bapak itu tepat berada dibelakang 2 bapak-bapak tinggi menjulang sementara ia
hanya setengah ukuran dari mereka. Belum lagi saya dibelakangnya yang telah
membentangkan ketek menyebar teror racun aroma tubuh agar ia segera keluar dari
barisan sehingga saya bisa duduknya lebih maju. Salah seorang siswa saya, Chua,
ngakak menyaksikan aksi ini.
Saat menyanyikan lagu indonesia
raya, rasa nasionalisme saya sedikit terusik oleh para audiens. Mereka menyanyikan
lagu jauh dari tempo lagu. Musik seolah mengejar syair nada yang terlontar dari
mulut para audiens yang notabene para penyanyi karaoke dalam hati. Kebisingan dalam ruang debat
semakin menjadi-jadi saat para pendukung PASLON bersorak yel-yel yang lebih
mirip cicitan indukan ayam pedaging. Gak jelas pokoknya. Yang paling jelas dari
teriakan mereka hanya nomor urut pasangan calon usungan mereka. Selebihnya hanya
teriakan saling memanas-manasi.
Debat berjalan lancar dan masing-masing
calon telah unjuk kebolehan, kelebihan dan kepantasan untuk memimpin selayar. Terlepas
dari segalanya, saya sadar mereka adalah manusia biasa yang punya kekurangan. Jika
seandainya 3 pasangan CABUP itu gagal terpilih maka dengan ikhlas saya bersedia
menjadi calon alternatif. Tinggal di pilihkan pasangan pendamping sebagai wakil
saya dengan kriteria cantik, cerdas dan siap dimadu. Wkwkwkkww.
Ngomong-ngomong, Saya siap maju sebagai calon
pilihan alternatif apabila Para Calon Bupati sakit tifus dan mencret pada
tanggal 9 nanti dan menyatakan mundur.
Jika para calon telah mengusung
visi dan misinya, maka sayapun memiliki visi-misi sebagai berikut:
Visi: Menjadikan selayar sebagai kabupaten bebas galau dan sogok
Misi
- Menyediakan bahu tempat bersandar jika sekiranya ada janda muda yang membutuhkan
- Memberdayakan cabe-cabean sebagai sumber daya produktif dalam rangka menjebak pejabat korup dan pejabat yang doyan daun muda dan party.
- Meningkatkan modal belanja ibu-ibu melalui gerakan SITUASI (Sita Uang dan ATM Suami)
- Membenahi persoalan ekonomi mikro dengan menjadikan pasar sebagai tempat belanja kebutuhan sehari-hari (yaa iyalahh bencong)
- Membina para pria kehilangan identitas di salon-salon dengan program Dual-KTP Identitas agar Siang dan Malam hari identitas mereka berbeda.
- Menertibkan tayangan sinetron yang tak mendidik dan menggantinya dengan tayang bola luar negeri.

0 komentar:
Posting Komentar