Well, well,...
Agak lama juga gak ngepost. Maklum
sang admin baru menyelsaikan pertapa terakhir dalam rangka memperdalam ilmu
perlindungan diri dengan menggunakan payung pada saat hujan. Gak penting yah. Ya
udah.
Tepat pada saat jemari saya
luntang-lanting diatas tuts keyboard latop, di sekolah tempat saya bekerja lagi
ada kegiatan yang digagas oleh Ekskul SISPALA yaitu pengolahan sampah terpadu. Sebagai
pribadi yang sempat menjadi sampah Daur Ulang di Masyarakat agak risih sih
denga tema kegiatan ini. Takutnya identitas saya akan terbongkar begitu saja. Parah
kan? Lebih parahnya lagi kalian bakal bingun dengan apa yg saya tuliskan. Ya udahh..
Sebagai generasi muda, kegiatan
positif memang sangat kita butuhkan agar terhindar dari jerumus perilaku masa
remaja yang menyimpang. Sebut saja NARKOBA dan Minuman Keras, misalnya Aspal
dan Jus campur beton. Ini gak boleh diminum. Generasi Muda adalah tumpuan
kemajuan negeri ini, maka kegiatan ini pasti akan sangat disambut baik oleh
para Remaja Cerdas.
Saat kegiatan dimulai, dan gue
sebagai pembina Ekskul membuka kegiatan selaku moderator pendamping pemateri.
Insting pria perkasa gue pun meningkat dengan metode pengolahan suara agak
perkasa lelaki dimana sebelumnya suara gue cenderung cempreng saat bersama para
teman wanita. Yuk mariii,.. cuss..
Entah apa yang ada dipikiran para
peserta, begitu gue mulai bicara kepala mereka clinguk kiri kanan seolah
mencari sumber suara. Padahal gue duduknya di meja panelis pemateri. Seolah gue
adalah makhluk tak jelas sebagaimana di sinetron horor indonesia. Hampir saja
gue sisipkan ketawa ala hantu biar suasana makin meriah, eh tegang. Kesal.
Akhirnya gue mencoba tersenyum
dan alhamdulillah mereka mulai memperhatikan pemateri cantik di sebelah gue,
nyesek yah.
Ada sebuah pelajaran penting dari
kegiatan ini, bahwa setiap manusia punya kesempatan untuk menjadi baik dan
berguna dalam kehidupannya. Filosofinya kayak sampah tadi. Meskipun ia telah
menjadi barang tak berguna namun dengan cara dan pendekatan tertentu akan
kembali bermamfaat. Itu sampah. Apalagi manusia yang batas kreatifitasnya tak
terhingga. Gak peduli orang memandang kita ‘sampah’. Percayalah, kita masih
bisa berguna bagi sesama selagi ada kemauan untuk berubah.
![]() |
| gak usah tanya gue yang mana. yang ambil gambar. |

0 komentar:
Posting Komentar