Sabtu, 03 November 2012

Suci with Istighfar

Sebelumnya saya mohon maaf jika persepsi anda akan isi tulisan saya ini sama sekali tak relevan dengan judul yang saya berikan. Tapi jika anda mau membaca postingan ini dengan santai dan fun (serta berlapang dada ), maka anda akan memenemukan benang merahnya (cie gaya). Postingan kali ini adalah salah satu dari beberapa cerita masa SMA saya yang agak (baca: teramat) BAHENOL (baca: gila,..apaan coba. Bahenol dan gila gak ada nyambungnya.) ya udah maksud saya Freak gitulah. Kalo misalnya ada yang bertanya FREAK itu apa, maka gak usah googling eah qaqa…, freak = es cendol. (bingung-bingung lho!!!)

Saya sering ditanya oleh teman-teman saya olahraga favorite saya. Sebuah pertanyaan yang susah untuk saya jawab. Semua olahraga saya suka. Persoalannya tak satupun olahraga yang cukup saya lihai dengannya. Satu-satunya olahraga yang pernah membuat saya terkenal sekecamatan adalah lomba lari gigit sendok. Gak usah heran sob kenapa saya yang menjuarai. Sebab saat itu panitia gak cukup sendoknya. Terpaksa saya gunakan sekop ganti sendoknya. So, I am discualified!!!. It’s nothing!. Kadang ayah saya mempojokkan saya ketika saya dibandingkan dengannya yang atlit sepak bola kabupaten. Dalam keadaan semacam itu kadang saya mikir saya itu sungguh payah. Masa sih gak ada satupun olahraga yang saya skillfull didalamnya. Andai saja “PELINTIR BULU KETEK” itu adalah olahraga, maka saya yakin bisa mengharunkan nama negeri ini dalam ajang  WHSC (WORLD HAIRKETECK SPINNING CHAMPIONSHIP). Ah, payah. Maka bisa dipastikan ketika ada ajang olahraga tigkat SMA, tak sekalipun saya berharap untuk mewakili sekolah kebanggaan saya.

Suatu hari diadakan lomba lari maraton tingkat SMA. Salah seoran teman sekelas saya terpilih mewakili sekolah saya untuk lomba tersebut. Namanya Adi Sucipto. Namun kami teman sekelasnya sering memanggilnya ‘Suci’. Sebuah panggilnnya yang saya yakini sangat menzalimi kepribadiaanya. Suci itu cowok banget. Bahkan sangat kontradiktif nama panggilan yang kami berikan. Suci itu macho orangnya, analitis serta hepatitis (hehehhee,…maaf temanku Suci yang budiman). Kalo dalam olahraga maka Suci terkenal karena kecepatannya dalam berlari. Tiap praktek atletik mata pelajaran PEJASKES maka Suci yang mendapat skor tertinggi. Sementara gue, belum-belum finish aja pasti dunia sekitar terasa mutar-mutar, gelap dan…suara ambulance meraung-meraung. Satu-satunya teman sekelas saya yang berani saya tantang lari adalah Zaenuddin a.k.a Zey atau dengan panggilan yang juga cukup zalim ZAEMUNA. Sebuah pangilan yang dipolopori oleh Ahmad Suhardin. Panggilan Suci untuk Adi Sucipto sang Sprinter  kalau gak salah dia pula penciptanya. Saya juga curiga jangan-jangan ada pula nama yang telah ia ciptakan untuk saya.
Satu hari sebelum lomba tersebut dilaksanakan, saya sempat bincang-bincang dengan suci sehabis sholat zuhur ddi musholla.
“yakin kamu tuk ikut dalam lomba itu?” tanya saya yang menyiratka keraguan akan kemampuan Suci.
“Tuhan pasti menolong hamba-Nya yang mau berusaha” sebuah jawaban pribadi yang mengisarat spiritual tinggi. Tak saya pungkiri, dia adalah satu teman saya yang ‘alim’.
Saya diam. Gak ada lagi pertanyaan yang bisa saya lontarkan mendengarkan jawaban tersebut. Sesaat sebelum saya berdidiri, ada memegang tangan saya. Mata kami beradu. Saya deg-degan. Bibir Suci mulai merekah seakan mau mengucapkan sesuatu. Apakah dia akan nembak saya? BUSET. Dengan tiba-tiba dia ngomong disertai dengan suara lembut (baca:berbisik),
“sayah sudah belajar samahh kakek sayahh supayahh bisahh tahanhh staminaaahhh”
umh, Bau kunyuk!!, lalu saya balas,”APAAHHHHHH….”
Suci PINGSAN!!!. Hehehe, totally, it’s unhappened.  Sumpah, dialog yang ini bohong.  Dia bilang kalau dia udah belajar supaya bisa tahan stamina tuk lomba besok. Saya penasaran. Saya kemudian bertanya akan hal itu. Dia celinguk kiri-kanan, lalu dia jawab:
“ini rahasia. Jangan bilang sama sapa-sapa!!!”
Saya makin kayak orang bodoh menantikan jawabannya. Muka gue merona, eh, maksudnya penasaran gitulah.
“iyyah,..yakin saja” jawab saya
“perbayak ISTIGHFAR ajjah!!!”
Gue gondok mendengar jawabnya.
“biasanya dosa-dosa berpengaruh pada performance dan hal fisik lainnya” lanjutnya.
Saya natap kaca jendela. Saya perhatikan wajah saya. Apakah wajah ini representasi dari banyaknya dosa-dosa saya. Kamu itu Menghina saya Suci Saiankkk! Apakah itu berarti dengan perbanyak istighfar wajah saya akan lebih ganteng??? Dasar lo!!!.
Dia tinggalin saya yang masih bingung mencerna kata-katanya.

Keesokan Harinya…
Sebagai teman yang baik maka saya datang memebrinya suport pada lomba tersebut. Saya mencari-cari sosoknya dalam kerumanan peserta lomba. Gak ada. Jangan-jangan dia batal ikut lagi. Mata saya kembali mencari . kali ini kekumpuan anak-anak. Ada sosok yang saya kenal di sana. Dia Suci.  Apa iya dia akan Maraton melawan anak-anak itu? Saya dekati dia.
“ini lawan-lawan kamu” tanyaku
“bukanlah! Emang gue cowok apaan??” jawabnya sok macho. Kancut lo.
Baru kali ini dia ngaku kalo dia itu cowok. Selama ini dia ngakunya kalau dia itu laki-laki. (mulai ngawur. Mata mulai ngantuk sementara cerita ini saya masih gak tahu sampai mana akan berakhir).
Gl lama kemudia panitia mengumumkan supaya peserta lomba tingkat SMA mengambil posisi di garis Start. Suci bangkit.
“Udah sarapan?” tanyaku sok perhatian
“iya, saya minum air zam-zam tadi sama gula merah dari Arab” jawabnya mantap sambil senyum ke arahku. Umh, mulai musyrik nih nak, gumamku. Semua teman-teman sekelasnya hadir tuk beri dukungan.
Saat akan mulai start, Suci memasang scraf warna merah di kepalnya. Sok keren. (maaf Suci cantik, cerita ini harus saya improvisasi). Lomba pun dimulai bersamaan dengan delepaskan tembakan keudara.
Suci berlari konstan nan mantap. Kami teman-temannya meneriakkan yel-yel.
“SU-CI..SU-CI…SU-CI…” Teriak kami. Orang-orang pasti mikir yang mana orang yang kami maksud.
SUCINYA SATU BISULNYA BANYAK!!!. Hehehhe. (yel-yel ini gak ada kok,..dan yang paling penting DON’T TRY THIS ANYWHERE!).
Putaran ketiga Suci dah mulai kelihatan kendor. Suci mulai mentup mata. Kami kwatir. Larinya kembali kencang. Kami pun semangat namun kemudian miris setelah tahu suci belok kiri kearah tribun. Dia dah keluar trek. Mampus dah. Kami berhamburan ke arahanya. Suci masih nutp mata sambil berlari seperti orang kesurupan. Lalu ia berteriak histeris!!!!
MAMA!!! AIRR!!!! MATAKU BUTAAA!!!. Kami makin khawatir. Ia kumudian rubuh ke tanah. Kakinya masih kejang-kejang seperti ayam yag abis nelan tabung gas elpiji. Hahahaha.
“ISTIGHFARRR-ko!!!!” teriak saya berusaha membantu. Suci malah Azan.
“istighfar!!!” sekali gue ngingatin sekligus nuntun. Tapi dia malah teriak “SUBHANALLAHHH!!!”. EMOSI SAYA. Pengen banget jitak jidatnya. Saya pergi. Gak lama kemudian dia dah mulai sadar. saya mikir jangan-jangan dia ini gak tahu yang mana istighfar. Saya dekati lau bertanya.
“kok bisa kayak tadi”
“saya lupa baca ISTIGHFAR, Wal”
Saya dorong kepalanya. Sotoy Lo!!!
Tawa Teman-teman saya pecah….
….
 here they are:
berdiri: Novi, Zey, Ridho Rhoma (hehehe) bawah: Firman, Suci, Ahmad Suhardin

1. Adi Sucipto aka Suci  2. saya


0 komentar:

Posting Komentar

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html