Sebelumnya saya mohon maaf jika
persepsi anda akan isi tulisan saya ini sama sekali tak relevan dengan judul
yang saya berikan. Tapi jika anda mau membaca postingan ini dengan santai dan
fun (serta berlapang dada ), maka anda akan memenemukan benang merahnya (cie
gaya). Postingan kali ini adalah salah satu dari beberapa cerita masa SMA saya
yang agak (baca: teramat) BAHENOL (baca: gila,..apaan coba. Bahenol dan gila
gak ada nyambungnya.) ya udah maksud saya Freak
gitulah. Kalo misalnya ada yang bertanya FREAK itu apa, maka gak usah googling eah qaqa…, freak = es cendol. (bingung-bingung lho!!!)
Saya sering ditanya oleh
teman-teman saya olahraga favorite saya. Sebuah pertanyaan yang susah untuk
saya jawab. Semua olahraga saya suka. Persoalannya tak satupun olahraga yang
cukup saya lihai dengannya. Satu-satunya olahraga yang pernah membuat saya
terkenal sekecamatan adalah lomba lari gigit sendok. Gak usah heran sob kenapa
saya yang menjuarai. Sebab saat itu panitia gak cukup sendoknya. Terpaksa saya
gunakan sekop ganti sendoknya. So, I am
discualified!!!. It’s nothing!. Kadang ayah saya mempojokkan saya ketika
saya dibandingkan dengannya yang atlit sepak bola kabupaten. Dalam keadaan
semacam itu kadang saya mikir saya itu sungguh payah. Masa sih gak ada satupun olahraga
yang saya skillfull didalamnya. Andai
saja “PELINTIR BULU KETEK” itu adalah olahraga, maka saya yakin bisa
mengharunkan nama negeri ini dalam ajang
WHSC (WORLD HAIRKETECK SPINNING CHAMPIONSHIP). Ah, payah. Maka bisa
dipastikan ketika ada ajang olahraga tigkat SMA, tak sekalipun saya berharap
untuk mewakili sekolah kebanggaan saya.
Suatu hari diadakan lomba lari
maraton tingkat SMA. Salah seoran teman sekelas saya terpilih mewakili sekolah
saya untuk lomba tersebut. Namanya Adi Sucipto. Namun kami teman sekelasnya
sering memanggilnya ‘Suci’. Sebuah panggilnnya yang saya yakini sangat
menzalimi kepribadiaanya. Suci itu cowok banget. Bahkan sangat kontradiktif
nama panggilan yang kami berikan. Suci itu macho orangnya, analitis serta hepatitis (hehehhee,…maaf temanku Suci
yang budiman). Kalo dalam olahraga maka Suci terkenal karena kecepatannya dalam
berlari. Tiap praktek atletik mata pelajaran PEJASKES maka Suci yang mendapat
skor tertinggi. Sementara gue, belum-belum finish aja pasti dunia sekitar terasa
mutar-mutar, gelap dan…suara ambulance meraung-meraung. Satu-satunya teman
sekelas saya yang berani saya tantang lari adalah Zaenuddin a.k.a Zey atau
dengan panggilan yang juga cukup zalim ZAEMUNA. Sebuah pangilan yang dipolopori
oleh Ahmad Suhardin. Panggilan Suci untuk Adi Sucipto sang Sprinter kalau gak salah dia
pula penciptanya. Saya juga curiga jangan-jangan ada pula nama yang telah ia
ciptakan untuk saya.
Satu hari sebelum lomba tersebut dilaksanakan, saya
sempat bincang-bincang dengan suci sehabis sholat zuhur ddi musholla.
“yakin kamu tuk ikut dalam lomba itu?” tanya saya
yang menyiratka keraguan akan kemampuan Suci.
“Tuhan pasti menolong hamba-Nya yang mau berusaha”
sebuah jawaban pribadi yang mengisarat spiritual tinggi. Tak saya pungkiri, dia
adalah satu teman saya yang ‘alim’.
Saya diam. Gak ada lagi pertanyaan yang bisa saya
lontarkan mendengarkan jawaban tersebut. Sesaat sebelum saya berdidiri, ada
memegang tangan saya. Mata kami beradu. Saya deg-degan. Bibir Suci mulai
merekah seakan mau mengucapkan sesuatu. Apakah dia akan nembak saya? BUSET.
Dengan tiba-tiba dia ngomong disertai dengan suara lembut (baca:berbisik),
“sayah sudah belajar samahh kakek sayahh supayahh
bisahh tahanhh staminaaahhh”
umh, Bau kunyuk!!, lalu saya balas,”APAAHHHHHH….”
Suci PINGSAN!!!. Hehehe, totally, it’s unhappened. Sumpah, dialog yang ini bohong. Dia bilang kalau dia udah belajar supaya bisa
tahan stamina tuk lomba besok. Saya penasaran. Saya kemudian bertanya akan hal
itu. Dia celinguk kiri-kanan, lalu dia jawab:
“ini rahasia. Jangan bilang sama sapa-sapa!!!”
Saya makin kayak orang bodoh menantikan jawabannya.
Muka gue merona, eh, maksudnya penasaran gitulah.
“iyyah,..yakin saja” jawab saya
“perbayak ISTIGHFAR ajjah!!!”
Gue gondok mendengar jawabnya.
“biasanya dosa-dosa berpengaruh pada performance
dan hal fisik lainnya” lanjutnya.
Saya natap kaca jendela. Saya perhatikan wajah
saya. Apakah wajah ini representasi dari banyaknya dosa-dosa saya. Kamu itu
Menghina saya Suci Saiankkk! Apakah itu berarti dengan perbanyak istighfar
wajah saya akan lebih ganteng??? Dasar lo!!!.
Dia tinggalin saya yang masih bingung mencerna
kata-katanya.
Keesokan Harinya…
Sebagai teman yang baik maka saya datang memebrinya
suport pada lomba tersebut. Saya mencari-cari sosoknya dalam kerumanan peserta
lomba. Gak ada. Jangan-jangan dia batal ikut lagi. Mata saya kembali mencari .
kali ini kekumpuan anak-anak. Ada sosok yang saya kenal di sana. Dia Suci. Apa iya dia akan Maraton melawan anak-anak
itu? Saya dekati dia.
“ini lawan-lawan kamu” tanyaku
“bukanlah! Emang gue cowok apaan??” jawabnya sok
macho. Kancut lo.
Baru kali ini dia ngaku kalo dia itu cowok. Selama
ini dia ngakunya kalau dia itu laki-laki. (mulai ngawur. Mata mulai ngantuk
sementara cerita ini saya masih gak tahu sampai mana akan berakhir).
Gl lama kemudia panitia mengumumkan supaya peserta
lomba tingkat SMA mengambil posisi di garis Start. Suci bangkit.
“Udah sarapan?” tanyaku sok perhatian
“iya, saya minum air zam-zam tadi sama gula merah
dari Arab” jawabnya mantap sambil senyum ke arahku. Umh, mulai musyrik nih nak,
gumamku. Semua teman-teman sekelasnya hadir tuk beri dukungan.
Saat akan mulai start, Suci memasang scraf warna
merah di kepalnya. Sok keren. (maaf Suci cantik, cerita ini harus saya
improvisasi). Lomba pun dimulai bersamaan dengan delepaskan tembakan keudara.
Suci berlari konstan nan mantap. Kami
teman-temannya meneriakkan yel-yel.
“SU-CI..SU-CI…SU-CI…” Teriak kami. Orang-orang
pasti mikir yang mana orang yang kami maksud.
SUCINYA SATU BISULNYA BANYAK!!!. Hehehhe. (yel-yel
ini gak ada kok,..dan yang paling penting DON’T TRY THIS ANYWHERE!).
Putaran ketiga Suci dah mulai kelihatan kendor.
Suci mulai mentup mata. Kami kwatir. Larinya kembali kencang. Kami pun semangat
namun kemudian miris setelah tahu suci belok kiri kearah tribun. Dia dah keluar
trek. Mampus dah. Kami berhamburan ke arahanya. Suci masih nutp mata sambil
berlari seperti orang kesurupan. Lalu ia berteriak histeris!!!!
MAMA!!! AIRR!!!! MATAKU BUTAAA!!!. Kami makin
khawatir. Ia kumudian rubuh ke tanah. Kakinya masih kejang-kejang seperti ayam
yag abis nelan tabung gas elpiji. Hahahaha.
“ISTIGHFARRR-ko!!!!”
teriak saya berusaha membantu. Suci malah Azan.
“istighfar!!!” sekali gue ngingatin sekligus
nuntun. Tapi dia malah teriak “SUBHANALLAHHH!!!”. EMOSI SAYA. Pengen banget
jitak jidatnya. Saya pergi. Gak lama kemudian dia dah mulai sadar. saya mikir
jangan-jangan dia ini gak tahu yang mana istighfar. Saya dekati lau bertanya.
“kok bisa kayak tadi”
“saya lupa baca ISTIGHFAR, Wal”
Saya dorong kepalanya. Sotoy Lo!!!
Tawa Teman-teman saya pecah….
….
here they are:
![]() | |
| berdiri: Novi, Zey, Ridho Rhoma (hehehe) bawah: Firman, Suci, Ahmad Suhardin |
![]() | |
| 1. Adi Sucipto aka Suci 2. saya |


0 komentar:
Posting Komentar