Semasa kecil gue sering ditanya
tentang cita-cita, dan jawaban gue pun berbeda-beda seiring usia. Waktu SD
misalnya ketika hal itu ditanyakan ke aku, maka jawaban yang gue berika adalah
“pengen jadi orang yang berguna bagi Nusa dan Bangsa”. Jawaban itu gue peroleh
dari keseringan buka majalah anak yang dimana di dalamnya banyak dimuat
biodata-biodata pembaca setianya yang mencantumkan kalimat tersebut. Saban hari
gue tahu bahwa menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa itu sangatlah
ragam. Menjaga dan mecuci WC mum juga bagiannya. Maka cita-cita itu pun urung
dikit-dikit.
Masuk usia SMP, jawaban gue akan
cita-cta sedikit lebih dewasa. Cita-cita gue saat itu adalah “ingin
mengeluarkan bangsa Indonesia dari krisis moneter yang berkepanjangan”. Gue mendapat
applause dari ibu guru saat kalimat itu terucap degan lancar dari bibirku di
hari pertama berstatus siswa SMP di Pondok Pesantren gue. Guru pun bertanya:
“bagaimana kamu bisa memilih
cita-cita semulia itu?”
“baca dari majalah dan buku, bu”
jawab gue sumringah serasa di atas awan.
Gak lama kemudian teman yang
duduk di belakang gue bertanya atau lebih tepatnya minta saran akan cita-cita
yang akan dia katakan kalo ditanya oleh ibu guru.
“presiden?” saran gue
“gak, yang biasa aja tapi keren”
jawab Bustamin, temanku.
“Gimana kalo PRAMUGARI?” saranku
kembali
“apaan tuh? Kerja kayak gimana?”
“di pesawat terbang”
“Ngendalikan pesawat?”
“iya” jawabku asal
Giliran Bustamin yang ditanya,
dan seisi kelas tumpah ruah oleh tawa membahana. Lebih tepatnya tawa terkekeh
menghina atas cita-cita teman laki-laki JANTANku ini yang kepengen jadi seorang
PRAMUGARI.
Sebuah colekan maha kasar
mendarat di pantatku. Dia menggerutu. Gue yakinin bahwa sebenarnya gue juga gak
tahu pramugari itu apaan. Untungnya ibu guru menjelaskan bahwa pramugari itu
khusus buat cewek, kalo cowok namanya PRAMUGARA.
“kalo gitu aku mau jadi
PRAMUGARA aja, bu. Asal bisa tetap ngendarai pesawat terbang.” Celoteh Bustamin
dengan semangat.
“kalo yang mengendalikan
pesawat, namanya PILOT, nak” ibu guru coba menyelesaikan kesalahpahaman itu.
Bustamin melotot tajam padaku,
dan berbisik:
“napa gak ngasi tahu gue kalo
pengendali pesawat itu Pilot?”
“LO BELUM NANYA GUE SARAP!!!. Lo
aja yang kejijay-an untuk menjawab” gue membela diri.
Dalam Suasana itu, Agus yang
bercita-cita ingin jadi insinyur bertanya ke gue:
“kalo pesawat terbang, KENEK itu
sama dengan PRAMUGARI gak?”
Gue gak tahu mau jawab apa.
Sejujurnya gue juga gak terlalu tahu banyak akan ilmu KEDIRGANTARAAN. Cuma
hemat gue mentakan bahwa KENEK itu adalah orang yang biasa membantu seorang
sopir buat ngangkut barang ke mobil sekaligus yang ngebantu cari penumpang di
tiap terminal dengan teriakan tertentu yang tertuju pada daerah tujuan. Nah,
kalo pesawat pake kenek, gimana ceritanya. Trus pesawat akan singgah tiap
terminal juga sambil terbang rendah lalu para pramugarinya teriak gini: makassar…makssar,..masih ada kursih kosong,.
Ayo..ayo. Trus penumpang yang mau naik di ulurkan tali kebawah dan mereka
berbondong-bondong manjat lewat tali itu. GILA!!!.
Si Agus masih dengan
pertanyaannya,
“kenek pesawat di mana, Wal?”
Gue jawab asal “di Roda bagian
depan”.
Dia ngangguk seolah mengerti,
dan dengan cekatan gue timpuk pake penghapus. SARAP!!!. Lo harusnya mikir jawaban
gue logis atau tidak. Beberapa saat kemudian Agus nyolek gue dan mengatakan
sesuatu yang membuat darah perjaka gue mendidih.
“kayaknya gak mungkin kenek
pesawat ada di roda bagian depan dan gak mungikin pesawat terbang ada
keneknya”.
SETAN POHON KAPUK LO, GUS!!!.
ULAT CABE RAWA LO!!!. Dari tadi harusnya kamu mikir gitu. Gue burai
usus-ususnya dengan kasar. Darah kemana-mana. Oke, yang ini bohong. Intinya,
gue emosi abis akan ke-bolot-an otaknya (telinga kali BOLOT).
Masuk SMA, cita-cita gue berubah
lagi. Gue kepengen banget jadi penyair semisal Khalil Gibran atau Chairil
Anwar. Gue semakin rajin baca buku berbau satra (dan rempah-rempah). Yang
membuat gue tertarik akan hal ini adalah kakak sepupu gue yang buanyak pacar.
Gue pengen kayak dia. Maka saran dia ke gue adalah gue harus banyak baca buku
satra dan harus bisa menulis kata-kata puitis nan romantis. Makin rajin gue
nulis puisi. Bahkan gak jarang puisi itu gue sendiri gak ngerti apa maksudnya.
Terlalu puitis mungkin atau juga mungkin karena kalimat yang tersusun itu asal
banget. Gue akan merasa bangga banget kalo ada temen cewek yang membaca puisi
karya gue trus dia meminta gue tuk ngejelasin maksudnya. Dengan sepenuh hati
pasti gue jelasin sampai ia tertidur pulas.
Jika hari ini gue ditanya apa
cita-cita terbesar gue, maka jawabannya adal ingin menjadi pengajar profesinal
dan berkualitas. Gue senang berbagi ilmu. Ada kebahagiaan tersendiri setiap
habis mengajar. Gak semua orang bisa ngajar. Orang boleh aja punya 100 ilmu
tapi belum tentu bisa membagi setengah ilmunya ke oran lain. Namun ada juga
orang yang hanya punya 10 ilmu tapi bisa membagi 9 ilmunya ke orang lain.
Sebagian orang masih memandang sebelah mata akan seorang pengajar atau guru.
Sesungguhnya mereka belum sadar bahwa orang-orang sukses yang ada di dunia ada
karena didikan seorang guru.
Gue gak bermaksud memberikan
penekan mana cita-cita terbaik, melainkan ingin lebih mengedepankan bagaimana
menggenggam asa dengan pasti. Setiap orang punya takdir yang berbeda dalam
hidup. Tapi perbedaan itu bukan untuk saling menjatuhkan.
Orang bijak mengatakan
GANTUNGKAN CITA-CITAMU SETINGGI LANGIT, Dan sebagai orang yang gak terlalu
bijak gue pengen juga bilang GANTUNGKAN CITA-CITAMU SETINGGI LANGIT-LAGIT DI
KAMARMU. (lah, kok?) ya, maksud gue biar cita-cita lo bisa kegapai sempurna.
Kalau kejauhan nanti kecewa. Ya kan?
Oke sekian dulu dari gue,
sebagai warga Negara yang baik maka pesan gue: NYALAKAN LISTRIK SECUKUPNYA DAN
CEBOKLAH SEHABIS BUANG AIR. MERDEKA!!!.
SALAM DANGDUT dan SAYANG SELALU,
Penunggang Onta
setuju sekali k'...
BalasHapusPresiden yang adil tidk akn pernh ada kalau bukan karena peran seorang guru...
kan.kan.kan.....
betul sekali. wah saya makin bangga dengan wrga negara ini. salah satunya yg berkomentar ini. seorang pengatur lalu lintas bentor juga bisa. lajutkn dek!!!
BalasHapusSaya seorang pengemudi bentor sangat merasa tersinggung dengan kalimat anda diatas...
BalasHapusPabentor goes online
Hapushahaha,...kalimat yg mana pakk???
Hapus