Selasa, 28 Februari 2012

KITAB GUNDUL

Bila di antara kalian bertanya apa itu kitab gundul, maka jawabnya adalah kitab yang gak gondrong.  Sebuah kitab pembelajaran bahasa arab mengacu pada hukum-hukum bahasa dan kebahasaan. Ciri kitab ini adalah semua aksaranya tanpa harakat atau tanda baca.
Sebagai mantan santri, maka diriku pun tak lepas dari hal ini semasa masih mondok. Plusnya adalah saya selalu punya cerita yang (mungkin) menggelikan tuk kembali dituturkan.
Bila dalam pelajaran umum matematika yang membuat banyak menyerah, maka dalam bahsa arab kitab gundul atau kitab kuning alias nahu sorof adalah tandingannya. Sebagian besar santri akan menangis bombai bila harus kembali berhadapan dengan pelajaran ini. Bagaimana tidak, kita akan dipaksa membaca kalimat dengan tulisan arab kriting plus gak ada tanda bacanya. Hebatkan?
Pengajar kitab gundulnya kebetulan orang jawa dan kita yang terbiasa dengan logat bugis Makassar harus sedikit nganga dan berurai air mata saat pemaparan tiap kalimat berbahasa arab dengan logat mendot jowo. Asli mampus lah jadinya. Biar kata kita minum tolak angin saat belajar kitab gundul, maka semuanya sia-sia. Gak ngaruh slogan mau pintar, minum cerebrovit  atau bahkan jika harus ngemil sabun colek sampe berbusa.
“man turidu  antaqra’ haazihil jumlah (siapa yang mau baca kalimat ini)” suara uztaz memecah konsentrasi khayalku saat itu. Gak Cuma aku, teman yang lain yang pada asik bercanda langsung terperangah dan sibuk (pura-pura) membaca kitab masing-masing. Kuperhatikan sejenak, ternyata sang uztaz hendak menunjuk. Maka gue pun nunduk. Bersembunyi di balik pungung teman yang  lain. But, anjrit! Ternyata gue duduk paling depan.
anta ya,…Awal Ma’ruf” nama gue disebutnya dengan logat mendotnya. It should be sexy I heard. Nama gue begitu indah kedengarannya bila disebutnya dengan logat arab yang asli, Seharusnya. 
Tapi semuanya terasa gak enak. Gue pun membaca kalimat bahasa arab tak berbaris itu dengan keringat dingin dan terbata-bata. Sukses. Berhasil gue tuntaskan satu kalimat itu.
“bagus …” pujinya. Gue pun senyum bencong mendengar pujian itu. Temen gue di belakang nyolek. Gue balik dikit, naikin alis dan kembali membelakanginya. 
Terasa di atas angin saat itu. Gue natap lekat-lekat kaca jendela mesjid yang di penuhi tetes-tetes hujan sore saat itu. Pikiran gue kembali mekar. Gak lagi dengan tertuju dengan materi nahu sorof. Sesekali masih terdengar suara pengajar yang menyebut nama santri lainnya tuk membaca kalimat perkalimat. Gue masih sibuk dengan khayalan sendiri. Entah kenapa isi kepalaku tertuju pada sinetron TERSANJUNG. Gue merasa mirip Ari Wibowo!!!. Gue senyum-senyum najong sendiri. Namun, semuanya buyar kembali saat teman gue nyolek kembali.
“wei, ditanyako Uztaz” bisiknya dengan logat makassar.
“apa kah?”  gue balik bertanya. Mata gue sibuk mencari informasi pertanyaan sang uztaz pada teman-teman yang lain. Sementara mata sang Uztaz masih tertuju padaku. Aku gak lagi merasa mirip Ari Wibowo saat itu, tapi lebih mirip keong bencong mandul. Malu banget.
“bikinko beng kalimat yang ada mansub dan majrur-nya” jelas temanku mengulang pertanyaan yang tak terdengar olehku gara-gara kayalan sampahku.
Hah..MANSUR? apa? MANSUB?? Apaan? Kok nama tetangga gue disebut. Asli, I have no idea ’bout it. Pengen banget pura-pura gila, trus nyanyi:
“wo..wow, kutersanjung,...
wow, ow…KUTERSANDUNG
janganlah kau, sia-siakan,..aku…
hohoho…YOLANDAAAA…”


sumpah gue kalap saat itu. Gak tau mau jawab dan bilang apa. Gak ada yang gue mengerti tentang Majrur dan Manshub seperti yang teman gue bilang. Dengan terbata-bata gue jawab:
“Anaa,..la,…mmm,..ana laa..knatullah ya uztaz. ANA LAKNATULLAH YA UZTAZ…”
Seisi masjid heboh dengan tertawa. gue mengerutkan alis. Gue lirik si uztaz-jawa-mendot itu juga ternyata cengegesan.
“hahahahaa..tab’an, anta laknatullah (memang kamu dilaknat Tuhan)” celutuk Bastian, temanku yang kalo ketawa lebih mirip roti bola karena Pipi tembemnya. Suara teman yang lain juga gak kalah membuatku terpuruk. Gue pake dilaknat segala. Antum dilaknat!!! Setan asem jawa loh. Dongkol bin cebok gue saat itu.
“Karena gue gak tahu mereka ketawa dan menghina? Ini kan wajar saja.” Gumam gue dalam hati.
“salah bilangko,..Awal, LA A’RIF harusnya, bukan LAKNATULLAH.” bisik si Agus manusia yang palanya lebih besar dari jempol tanganya.
Astaga,  gue baru sadar, ternyata tadi gue salah ngemeng karena grogi. Harusnya yang gue bilang adalah ANA LA A’RIF YAA UZTAZ (saya gak tahu pak). Bukannya ANA LAKNATULLAH…(saya dikutuk ALLAH). Gue hampir PDC (pipis di celana)saat itu. Muka gue merah. Ari Wibowo di jemput ambulance.

GUNDUL-LAH AKU YAA KITAB GUNDUL….




0 komentar:

Posting Komentar

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html