Jumat, 06 Januari 2017

MUHLIS, KAMI TELAH IKHLAS (Sebuah Catatan Kekaguman Dan Kenangan Atas Nama Cinta)


Beberapa bulan yang lalu, saya bertemu salah seorang teman seangkatan semasa di MAN. Pada pertemuan itu dia mengungkapkan kalau dia ke Madrasah Aliyah Negeri Bontoharu Selayar guna mengantar ponakannya yang pindah. Di sampingnya tampak seorang remaja tengah sibuk mengerjakan soal tes. Sebab sudah menjadi kelaziman setiap siswa yang masuk di MAN Bontoharu akan melewati tes akademik. Anak itu tersenyum kepada saya kemudian melanjutkan mengerjakan tesnya. Inilah awal mula saya mengenal anak itu. Namanya, Muhlis. Sekilas tampak tak ada yang istimewa pada anak ini. Cara berpakaiannya sederhana saja.
Beberapa hari kemuadian saya pun kembali dipertemukan dengan anak itu di kelas X Ilmu Sosial 2, kelas dimana saya menjadi Wali Kelas, ketika hendak memberikan ‘wejangan’ pagi sebagaimana tugas wali kelas guna mempererat hubungan emosional. Muhlis kembali menunjukkan senyum keramahannya. Saya menyapanya.
 “ selamat bergabung di kelas ini ya, Muhlis.” Iya tersenyum kembali.
Perhatian khusus saya mulai berubah kepadanya saat kami ada janji pembenahan kelas dalam rangka lomba keindahan kelas. Biasanya akan datang beberapa siswa saya membantu mengerjakan ‘proyek’ kecil-kecil ini. Dialah siswa yang pertama kali datang sesudah Ashar. Melihat saya tengah membuat sketsa pada dinding ia mengajukan bantuan,
“saya bantu mengerjakan apa ustadz?” tanya Muhlis sembari tersenyum mendekati saya.
“tunggu teman kamu yang lain, nak.” Jawabku kemudian melanjutkan kesibukanku pada sketsa.
Ia duduk di meja guru lalu membuka Kitab Suci Al Qur’an yang di ambilnya pada lemari. Aku yang memperhatikannya dengan ekor mata tersenyum kagum. Dalam hati saya bergumam kalo anak ini alim sekali.
Di hari-hari berikutnya semakin sering saya menghabiskan waktu bersamanya saat mengecat kelas kami. Bersama beberapa orang temannya, kami sering begadang hingga jam 11 malam. Saat teman mereka bekerja sembari bercanda dan berceletuk jenaka, Muhlis menanmpakkan tawanya meski tak terdengar suaranya. Sementara saya temannya yang lain tertawa terbahak-bahak setiap ada berceletuk lucu. Satu kalimat darinya yang saya selalu kenang saat ia berdiri disamping saya memegang wadah cat “ kelas kita harus juara, Pak. Kelas kita yang pertama membuat Dekorasi semacam ini. Yang lain kalau mereka ikut bagus karena kelas-kelas MAN Bontoharu akan semakin bagus dan tambah banyak yang mau masuk MAN.” Celoteh penuh semangat dan optimis Muhlis sektika membuat saya serasa penuh imajinasi
Suatu ketika mereka gaduh karena keributan yang mana merupakan ciri khas anak sekolahan, saya pun bergegas menuju kelasnya. Menegurnya. Menasehatinya. Mungkin karena merasa bersalah ia maju kedepan mengajak temannya lalu mengambil posisi push up. Dengan maksud mendisiplinkannya ia malah menunjukkan betapa ia seorang yang bertanggungjawab.
Peristiwa lainnya saat salah seorang teman sekelasnya kembali melakukan pelanggaran tata tertib yang menyebabkan mereka terkena tindakan pendisiplinan. Dialah yang paling pertama turun dari lantai 2 menuju  lapangan sekolah untuk diberikan sanksi. Ia pun memeberi tahu saya kalo dia tak tahu menahu akan hal itu. Ia tersenyum dan memanggil temannya yang lain agar menuju lapangan sekolah. Ia tetap tenang. Kami pun tahu bahwa dia bukan pelakunya. Namun dari caranya mengambil keputusan kalau anak ini penuh tanggungjawab. Tak heran bila semua teman sekelasnya senang dengan dia.
Saat perhelatan AKSIOMA OSIS MAN Bontoharu 2016, ia membuat kami juri lomba adzan bergidik merinding mendengar suaranya yang merdu, lembut dan penuh penghayatan. Itu kali pertama saya mendengarnya azan dengan mata langsung. Bagaimana ia memajamkan matanya menikmati indah kalimat Takbir, Syahadatain pada azannya.
Sehabis azan ia menemui saya di musholla sekolah agar mengajarinya tilawah sebab sekali lagi ia menjadi penyelamat kelas Kami dari zona denda apabila absen ada satu cabang lomba. Temannya yang harus menjadi Qori’ tak datang tanpa keterangan. Namun ia menunjukkan kepada saya dan membuat saya semakin terpikat bahawa dirinya sangat bisa diandalkan.
“Maaf kalau suara saya jelek Ustadz.” ucapnya kepada saya sambil tertawa. Meski ia tak menjadi juara. Ia sangat membuat saya senang.
3 hari sebelum ia wafat, ia pernah datang kesekolah sehabis sholat isya. Mengaji seorang diri di bundaran sekolah. Suaranya merdu. Saya tak menegurnya sama sekali. Sesekali ia tutup Qur’annya kemudian melanjutkan lantunan idnahnya. Rupanya ia tengah menghafal. Maka kuputuskan tak menegurnya. Rupanya ia tengah mempersiapkan hafalannya untuk diujikan guna mencukupkan hafalannya menjadi 3 juz yang sekaligus hafalan terakhirnya.
Salah seorang Murabbinya menuturkan bahwa pernah suatu malam ia datang bertamu lalu mengatakan kalau ia hendak minta tolong. Namun ia tak melanjutkan kalimatnya seolah malu. Dipikirnya anak ini minta uang sebab ia jauh dari kelurganya dan biasanya kesulitan anak pulau yang sekolah di kota berhubungan dengan uang dan semacamnya. Setelah ia didesak akan maksudnya minta tolong, rupanya ia meminta kerelaan hati sang Murabbi untuk menjadi imamnya pada sholat tahajjud. Sang Murabbiyah berkaca-kaca mengiyakan kemauannya.
Anak ini sangat istimewa. Betapa tidak keluhuran budinya mampu membuat kita terpikat. Ia menghembuskan nafas terakhirnya setelah beramal saleh, Setalah mencukupkan hafalannya. setelah mengikuti tarbiyah. Sehabis membaca Al Qur’an malam juma'at ia memilih nongkrong bersama temannya tinggal di masjid sambil menunggu waktu sholat lail di atas lantai 2 Masjid Syuhada 45 yang tengah di renovasi dan tanpa atap. Ternyata di situlah tempat yang ia pilih untuk kembali kepada Khaliknya. Menengadahkan wajahnya menatap langit menghembuskan nafas terakhirnya. Tepat di Malam Jum’at menjelang subuh. Subhanallah. Sesaat sebelum meninggalkan beliau kejang-kejang yang saya memperkirakannya tengah sakaratul maut. Kedua temannya memilih mengambil air wuduh untuk sholat dan mendoakannya sebab dipikirnya Muhlis tengah kerasukan jin semacamnya. Sekembalinya ke lantai 2 Muhlis telah terbaring kaku seolah tidur pulas.
Tepat sehari sebelumnya ia menelpon Ayah dan Ibunya sembari menangis dan meminta ampunan dan ridha. Menasehati kedua orang tuanya agar menjaga sholatnya. Rupanya ia ingin kembali tanpa beban dosa. Memilih menutup mata jauh dari jangkaun keluarganya agar tak ada ratapan tangis yang memberatkan perjalanan kembalinya.  Allah mengatur agar kematiannya biarlah ia hadapi sendiri tanpa temannya sekalipun.
Begitu indah kematianmu, Nak. Kami iri dan ingin sepertimu. Andaikan ada kematian semisal kematiannmu dengan harga jutaan pun kami ingin membelinya. Kami malu padamu nak. Diusia belia kamu mampu tunjukkan ke solehanmu melebihi kami gurumu. Pulahan jamaah Jum’at berdesakan untuk ikut meyelamatkanmu. Puncak kesedihan dan rasa cinta mereka saat tubuhmu telah terkubur dalam tanah orang tiba-tiba menagisimu. Padahal mereka tak menegenalmu. Mereka begitu bersemangat menggotong kerandamu menuju pusara padahal mereka baru mengenalmu hari itu nak. Ribuan LIKE dan uacapan doa keselamatan pada halaman facebok yang menuliskan tentangmu. Allah SWT memuliakanmu, nak.
Terima Kasih atas waktu singkatmu berkenalan dengan saya. Menjadikan saya dan gurumu  yang lain selalu bangga bercerita tentangmu. Menjadikan kami Warga Madrasah Aliyah Negeri Bontoharu merasa kehilangan seketika. Kami mencintaimu, Nak namun Allah SWT lebih mencintaimu dan merindukanmu. Selamat Jalan Anakku, Muhlis. Semoga Allah mempertemukan kita dalam Surga-Nya. Amin.
......
Beberapa barang peninggalan yang selalu menemaninya semasa hidup :
Sebuah Al Qur'an Lusuh yang dijadikan referensi Hafalannya.

Buku bacaan yang menjadi teman setia menhabiskan sepi

Al Qur'an Hafalan
catatan akhir, Catatan Niat dan Mimpi, ingin Bertaubat secara nasuha dan Wafat secara mulia

0 komentar:

Posting Komentar

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html