Beberapa bulan
yang lalu, saya bertemu salah seorang teman seangkatan semasa di MAN. Pada
pertemuan itu dia mengungkapkan kalau dia ke Madrasah Aliyah Negeri Bontoharu
Selayar guna mengantar ponakannya yang pindah. Di sampingnya tampak seorang
remaja tengah sibuk mengerjakan soal tes. Sebab sudah menjadi kelaziman setiap
siswa yang masuk di MAN Bontoharu akan melewati tes akademik. Anak itu
tersenyum kepada saya kemudian melanjutkan mengerjakan tesnya. Inilah awal mula
saya mengenal anak itu. Namanya, Muhlis. Sekilas tampak tak ada yang istimewa
pada anak ini. Cara berpakaiannya sederhana saja.
Beberapa hari
kemuadian saya pun kembali dipertemukan dengan anak itu di kelas X Ilmu Sosial
2, kelas dimana saya menjadi Wali Kelas, ketika hendak memberikan ‘wejangan’
pagi sebagaimana tugas wali kelas guna mempererat hubungan emosional. Muhlis
kembali menunjukkan senyum keramahannya. Saya menyapanya.
“ selamat bergabung di kelas ini ya, Muhlis.”
Iya tersenyum kembali.
Perhatian
khusus saya mulai berubah kepadanya saat kami ada janji pembenahan kelas dalam
rangka lomba keindahan kelas. Biasanya akan datang beberapa siswa saya membantu
mengerjakan ‘proyek’ kecil-kecil ini. Dialah siswa yang pertama kali datang
sesudah Ashar. Melihat saya tengah membuat sketsa pada dinding ia mengajukan
bantuan,
“saya bantu
mengerjakan apa ustadz?” tanya Muhlis sembari tersenyum mendekati saya.
“tunggu teman
kamu yang lain, nak.” Jawabku kemudian melanjutkan kesibukanku pada sketsa.
Ia duduk di
meja guru lalu membuka Kitab Suci Al Qur’an yang di ambilnya pada lemari. Aku
yang memperhatikannya dengan ekor mata tersenyum kagum. Dalam hati saya
bergumam kalo anak ini alim sekali.
Di hari-hari
berikutnya semakin sering saya menghabiskan waktu bersamanya saat mengecat
kelas kami. Bersama beberapa orang temannya, kami sering begadang hingga jam 11
malam. Saat teman mereka bekerja sembari bercanda dan berceletuk jenaka, Muhlis
menanmpakkan tawanya meski tak terdengar suaranya. Sementara saya temannya yang
lain tertawa terbahak-bahak setiap ada berceletuk lucu. Satu kalimat darinya
yang saya selalu kenang saat ia berdiri disamping saya memegang wadah cat “
kelas kita harus juara, Pak. Kelas kita yang pertama membuat Dekorasi semacam
ini. Yang lain kalau mereka ikut bagus karena kelas-kelas MAN Bontoharu akan
semakin bagus dan tambah banyak yang mau masuk MAN.” Celoteh penuh semangat dan
optimis Muhlis sektika membuat saya serasa penuh imajinasi
Suatu ketika
mereka gaduh karena keributan yang mana merupakan ciri khas anak sekolahan,
saya pun bergegas menuju kelasnya. Menegurnya. Menasehatinya. Mungkin karena
merasa bersalah ia maju kedepan mengajak temannya lalu mengambil posisi push
up. Dengan maksud mendisiplinkannya ia malah menunjukkan betapa ia seorang yang
bertanggungjawab.
Peristiwa lainnya
saat salah seorang teman sekelasnya kembali melakukan pelanggaran tata tertib
yang menyebabkan mereka terkena tindakan pendisiplinan. Dialah yang paling
pertama turun dari lantai 2 menuju
lapangan sekolah untuk diberikan sanksi. Ia pun memeberi tahu saya kalo
dia tak tahu menahu akan hal itu. Ia tersenyum dan memanggil temannya yang lain
agar menuju lapangan sekolah. Ia tetap tenang. Kami pun tahu bahwa dia bukan
pelakunya. Namun dari caranya mengambil keputusan kalau anak ini penuh
tanggungjawab. Tak heran bila semua teman sekelasnya senang dengan dia.
Saat perhelatan
AKSIOMA OSIS MAN Bontoharu 2016, ia membuat kami juri lomba adzan bergidik
merinding mendengar suaranya yang merdu, lembut dan penuh penghayatan. Itu kali
pertama saya mendengarnya azan dengan mata langsung. Bagaimana ia memajamkan
matanya menikmati indah kalimat Takbir, Syahadatain pada azannya.
Sehabis azan ia
menemui saya di musholla sekolah agar mengajarinya tilawah sebab sekali lagi ia
menjadi penyelamat kelas Kami dari zona denda apabila absen ada satu cabang
lomba. Temannya yang harus menjadi Qori’ tak datang tanpa keterangan. Namun ia
menunjukkan kepada saya dan membuat saya semakin terpikat bahawa dirinya sangat
bisa diandalkan.
“Maaf kalau
suara saya jelek Ustadz.” ucapnya kepada saya sambil tertawa. Meski ia tak
menjadi juara. Ia sangat membuat saya senang.
3 hari sebelum
ia wafat, ia pernah datang kesekolah sehabis sholat isya. Mengaji seorang diri
di bundaran sekolah. Suaranya merdu. Saya tak menegurnya sama sekali. Sesekali
ia tutup Qur’annya kemudian melanjutkan lantunan idnahnya. Rupanya ia tengah
menghafal. Maka kuputuskan tak menegurnya. Rupanya ia tengah mempersiapkan hafalannya untuk diujikan guna mencukupkan hafalannya menjadi 3 juz yang sekaligus hafalan terakhirnya.
Salah seorang
Murabbinya menuturkan bahwa pernah suatu malam ia datang bertamu lalu
mengatakan kalau ia hendak minta tolong. Namun ia tak melanjutkan kalimatnya
seolah malu. Dipikirnya anak ini minta uang sebab ia jauh dari kelurganya dan
biasanya kesulitan anak pulau yang sekolah di kota berhubungan dengan uang dan
semacamnya. Setelah ia didesak akan maksudnya minta tolong, rupanya ia meminta
kerelaan hati sang Murabbi untuk menjadi imamnya pada sholat tahajjud. Sang
Murabbiyah berkaca-kaca mengiyakan kemauannya.
Anak ini sangat
istimewa. Betapa tidak keluhuran budinya mampu membuat kita terpikat. Ia
menghembuskan nafas terakhirnya setelah beramal saleh, Setalah mencukupkan hafalannya. setelah mengikuti tarbiyah. Sehabis membaca Al Qur’an malam juma'at
ia memilih nongkrong bersama temannya tinggal di masjid sambil menunggu waktu
sholat lail di atas lantai 2 Masjid Syuhada 45 yang tengah di renovasi dan
tanpa atap. Ternyata di situlah tempat yang ia pilih untuk kembali kepada
Khaliknya. Menengadahkan wajahnya menatap langit menghembuskan nafas
terakhirnya. Tepat di Malam Jum’at menjelang subuh. Subhanallah. Sesaat sebelum
meninggalkan beliau kejang-kejang yang saya memperkirakannya tengah sakaratul
maut. Kedua temannya memilih mengambil air wuduh untuk sholat dan mendoakannya
sebab dipikirnya Muhlis tengah kerasukan jin semacamnya. Sekembalinya ke lantai
2 Muhlis telah terbaring kaku seolah tidur pulas.
Tepat sehari
sebelumnya ia menelpon Ayah dan Ibunya sembari menangis dan meminta ampunan dan
ridha. Menasehati kedua orang tuanya agar menjaga sholatnya. Rupanya ia ingin kembali
tanpa beban dosa. Memilih menutup mata jauh dari jangkaun keluarganya agar tak
ada ratapan tangis yang memberatkan perjalanan kembalinya. Allah mengatur agar kematiannya biarlah ia
hadapi sendiri tanpa temannya sekalipun.
Begitu indah
kematianmu, Nak. Kami iri dan ingin sepertimu. Andaikan ada kematian semisal
kematiannmu dengan harga jutaan pun kami ingin membelinya. Kami malu padamu
nak. Diusia belia kamu mampu tunjukkan ke solehanmu melebihi kami gurumu. Pulahan
jamaah Jum’at berdesakan untuk ikut meyelamatkanmu. Puncak kesedihan dan rasa
cinta mereka saat tubuhmu telah terkubur dalam tanah orang tiba-tiba
menagisimu. Padahal mereka tak menegenalmu. Mereka begitu bersemangat
menggotong kerandamu menuju pusara padahal mereka baru mengenalmu hari itu nak.
Ribuan LIKE dan uacapan doa keselamatan pada halaman facebok yang menuliskan
tentangmu. Allah SWT memuliakanmu, nak.
Terima Kasih
atas waktu singkatmu berkenalan dengan saya. Menjadikan saya dan gurumu yang lain selalu bangga bercerita tentangmu.
Menjadikan kami Warga Madrasah Aliyah Negeri Bontoharu merasa kehilangan
seketika. Kami mencintaimu, Nak namun Allah SWT lebih mencintaimu dan
merindukanmu. Selamat Jalan Anakku, Muhlis. Semoga Allah mempertemukan kita
dalam Surga-Nya. Amin.
......
Beberapa barang peninggalan yang selalu menemaninya semasa hidup :
......
Beberapa barang peninggalan yang selalu menemaninya semasa hidup :
![]() |
| Sebuah Al Qur'an Lusuh yang dijadikan referensi Hafalannya. |
![]() |
| Buku bacaan yang menjadi teman setia menhabiskan sepi |
![]() |
| Al Qur'an Hafalan |
![]() |
| catatan akhir, Catatan Niat dan Mimpi, ingin Bertaubat secara nasuha dan Wafat secara mulia |





0 komentar:
Posting Komentar