Sekitar tujuh tahun lalu persahabatan gue dengan seorang gadis bermula. Dia teman sekampus gue. Jika ada batas keakraban diatas saudara maka kami akan ada di level itu. seperti kebanyakan teman akrab, saat bersama celaanlah yang paling banyak muncul ketimbang daripada memuji. meskipun harus gue akui dibalik tampang tomboy dan kulitnya yang hitam manis (gak manis amat sih), dia orangnya care dan jago masak. 2 point itu yang buat dia istimewa di mata gue. namun sekali lagi, rasa untuk jatuh cinta dengannya gak ada. selama 7 tahun pula ia hanya memanggilku Jerapah, Tikus, Tiang Listrik dan banyak lagi celaan yang bagi gue kesemuanya malah bermakna manis dan sayang. semua karena keakraban dalam ikatan sahabat.
Pernah ia bertanya :
"Lu gak takut jatuh cinta ama gue, Pah? eh, Jerapah maksudnya! jangan ge-er lu!!"
"mebayangkannya saja gue takut". jawab gue santai sembari meneruskan jelajahan jemari diatas keyboard laptop mengetik tugas kuliah.
"ihh, apa lagi gue. huekk. impossible." jawabnya sambil menjulurkan lidah
"sok imut banget lu pake julurin lidah. mirip kadal tau. gak ada menariknya"
itu hanya sedikit gambaran sebab lebih banyak lagi malah terkesan saling menghina banget.
setelah 2 tahun setelah lulusan kuliah kami kembali dipertemukan. saat itu pertemuannya beda. Lamaran. gak pernah terlintas kalo bokap dan bokap gue sahabat lama. teman semasa mereka merantau. dan perjodohan itu diluar kendali dan rencana kami sebab ada yang lebih tahu semua rahasia di hidup ini.
"Pa kabar, Kus?" tanya dia memecah diam kami saat kembali bertemu. Padahal sebelumnya di chat dan sms bahkan pada telpon gak sesepi kali itu.
"baik Violeta Az Zahra" Jawab gue untuk pertama kali menyebut namanya secara lengkap.
"Hahaha... kenapa lu? sakit? biasanya juga manggilnya Blackie."
gue cuma tersenyum. berusaha terlihat lelaki sesungguhnya yang lebih keren dan manis.
"sok manis lu, Nyet!" lagi-lagi ia mencela gue.
tak terbendung lagi tawa gue. ngakak. gak mampu terlihat cool di hadapannya.
***
Hari ini gue resmi menjadi suami Violeta Az Zahra, Si Blackie. malam pertama gue dengannya hanya dilewatkan dengan ngobrol dan ketawa. mulai dari obrolan kuliah sampai pada pacar. semalam suntuk gue lah yang dibuli. Kegiatan sunnah rosul mah pending. gue memilih tidur lebih dulu saat prosesi cela-mencela dikuasi oleh mulut cerewetnya.
sebuah pagi kemudian membuat saya tersentak haru dan bahagia. saat tengah fokus pada layar laptop nge-browsing situs gak jelas ia datang.
"Selamat Pagi Sayang!" sapa Violeta juga merupakan kalimat pertamanya.
Ada hening yang agak panjang. gue tatap wajahnya yang tersenyum. air mata gue menitik. bahagia dan tak mampu gue lukiskan dengan kata-kata. Jari lembutnya menghapus deraiku setelah meletakkan segelas susu coklet panas di dekatku. Lalu kecupan manis didaratkan di dahiku. gue resapi ia resapi.
"Pratama Muhammad! Blackie gak butuh suami cengeng. tapi butuh suami ceria dan penuh semangat. suka mencela juga gak apa-apa" Ia menggoda gue sambil nyengir.
"gue gak nagis kok. terharu doang" jawab gue malu sambil menyembunyikan wajah di salah satu pahanya.
satu hal yang harus kalian tahu, Cinta sejati, Jodoh atau apapun kalian menyebutnya kadang-kadang ia bersembunyi sebagai sosok sahabat. Rahasia Tuhan memang begitu indah.
*tulisan ini diinspirasi oleh salah satu postingan Meme.

kisahkuu nanti bgini *maunya ..
BalasHapusciee ciee
BalasHapus