Paris,
4320 menit tersisa sebelum kepulanganku ke Negeriku. Indonesia, tanah merahku.
Setelah 5 jam disidang skripsi akhirnya semuanya kelar. Tak mampu kuluapkan
rasa bahagiaku setelah perjuangan kurang lebih 5 tahun gelar L.L.M S2-ku
terselesaikan. Alhamdulillah Ya Allah. Sembari berlari kecil menyusuri
koridor wing A Universite of Paris 1 Pantheon, kulonggarkan ikatan dasiku.
Mataku berair haru. Jika saja kesabaran, usaha dan do’a selalu menjadi kunci
maka buah manis pasti dipetik. Setiap perjuangan butuh peluh yang menetes. Juga
air mata. Selalu yakin setelah hujan pasti ada pelangi indah. Something
sweet much tested after bitter.
Tout était parfait*.
Buah kesabaran tengah aku petik. Kalian harus tahu setelah kepulanganku kelak
ke Selayar-Makassar-Indonesia, selanjutnya pernikahanku dengan Purie Astari
Raisa. Lebih sering kusingkat namanya PARIS. Perempuan cantik keturunan Minang.
Kalian harus tahu, kisah cinta kami begitu rumit awalnya. Paris, adalah
salah seorang mahasiswa primadona saat kami kuliah di UNM dulu. Cantik,
cerdas dan satu lagi selalu tampil anggun dalam balutan busana menutup aurat
sederhana. Saya hanyalah seorang pengagum rahasia yang tak punya keberanian
mengungkap rasa. Sahabat selalu menempati rasa diatas segalanya. Saat kutahu
Malik sahabatku menyukainya, aku berusaha menepis rasa itu. Saat ia melamarnya,
akupun berusaha ikhlas dan memberi support untuknya.
3
bulan kemudian, Malik mengabariku bahwa pernikahnnya dengan Paris batal.
Rasa itu kembali merah. Tumbuh untuknya. Namun sekali lagi aku harus terperih.
Kerabatnya melamar. Sejak saat itu kontakku tak lagi ada dengannya.
Paris,
pesona kota ini tak mampu kulukiskan. Namun cinta dan benihnya tak jua tumbuh.
Kuakui, gadis-gadis sekampusku di Sorbone cantik. Banyak pula mahasiwi negeri.
Namun Paris telah meninggalkan standarisasi yang tinggi. Tak ada yang
benar-benar singgah.
Suatu
ketika, saat jenuh menguasaiku, kucoba membuka account FB. Hampir 3 tahun tak
kusentuh. Cover picturenya masih sama. Sketsa manga seorang gadis berjilbab
dengan earphone. Paris, itu gambarnya. Kusketsa saat ia tengah tersenyum. Namun
ia tak pernah tahu. Ia bukanlah penyuka music. Saat berkelit dari pertanyaannya
aku bilang kalo gadis itu hanya imajinasiku saja. Buktinya earphone dan dia
sama sekali gak berhubungan. Ia mengangguk paham. Aku tersenyum dan kututup
penjelasan dalam hatiku “music is my life. The earphone is me, and You are a
part of me”.
Kucoba posting kalimat ini di FB:
Kucoba posting kalimat ini di FB:
“Paris,
bukan karena eiffelmu aku jatuh hati
atau kota romantismu yang mempesona
bukan pula taman-taman hijaumu yang teduh
hanya saja aku yakin, suatu hari engkau
akan menjadi bagian hidupku
…suatu hari nanti”
Beberapa menit kemudian, sebuah komentar muncul.
“you're pretty smart to hide the light of me in your eyes. But, heart can feel it even unexposed. No more puzzle. I believe we are a part”.
Kuklik account itu. Profilenya hanya huruf ‘P’. Namun covernya memberiku pentunjuk lain. Gambar seorang gadis dengan earphone. Persis coverku. Paris. It’s her.
Begitulah
awal manis kisah kami setelah beberapa luka sebelumnya. Takdir telah tersusun
indah dalam tangan tuhan.
....
0
menit. Aéroports de Paris, Bandara udara paris. Aku telah duduk di kursi dalam
pesawat. Hendak kumatikan ponseku, namun sebuah notifikasi BBM muncul. Sebuah
pesan dari Paris. Agak panjang tapi aku coba baca.
Bismillah,
“Calon Imamku, aku selalu
percaya dan tunduk pada kehendak Sang Kuasa. Apapun itu aku berusa menerimamu
dengan segenap cinta yang kumiliki. Entahlah, kakak harus percaya saat
kutuliskan pesan ini hatiku begitu lapang. Selalu siap dengan segala hal.
Termasuk jika akhirnya kita juga akan batal nikah. Tapi apa iya setelah kakak
bersembunyi dari rasa semuanya akan begitu saja? :p.
Wish, this the last I am being the
bride. Aku gak melulu Cuma jadi calon pengantin. Lebih dari itu, aku ingin jadi
istri. Kalo bisa istri dari magister hukum lulusan Universite of Prancis,
Zulham Akbar. Dirimu.”
Aku hanya tersenyum lalu membalasnya:
Music is my life and I believe you will be my music…”, lalu kumatikan ponselku.
***
Hening.
Air mata. Suara isak. Aku berusaha tegar. Lelehan air mata terus membasahi
layar ponselku. Kubaca pesan terakhir Zulham di BBM. Dia ingin aku jadi
musiknya. Itu artinya aku harus ceria. Kecelakaan pesawat yang ditumpanginya
lagi-lagi hanya menjadikanku calon pengantin. Senyumnya tak akan lagi kulihat.
Kamu telah menjadi bagian Paris. Bukan Cuma indah kota dan megah eiffelnya,
tapi juga cintanya. Seperti janjiku, aku ikhlas dengan ketetapn ini. Mungkin
belum saatnya kukecap manis. Mungkin lain kali. Dengan Zulham Akbar Lainnya.
*Semuanya
Sempuna (Bahasa Prancis)
Selayar,
12 Maret 2015.

0 komentar:
Posting Komentar