Selasa, 10 Maret 2015

P.A.R.I.S


Paris, 4320 menit tersisa sebelum kepulanganku ke Negeriku. Indonesia, tanah merahku. Setelah 5 jam disidang skripsi akhirnya semuanya kelar. Tak mampu kuluapkan rasa bahagiaku setelah perjuangan kurang lebih 5 tahun gelar L.L.M S2-ku  terselesaikan. Alhamdulillah Ya Allah. Sembari berlari kecil menyusuri koridor wing A Universite of Paris 1 Pantheon, kulonggarkan ikatan dasiku. Mataku berair haru. Jika saja kesabaran, usaha dan do’a selalu menjadi kunci maka buah manis pasti dipetik. Setiap perjuangan butuh peluh yang menetes. Juga air mata. Selalu yakin setelah hujan pasti ada pelangi indah. Something sweet much tested after bitter. 

Tout était parfait*. Buah kesabaran tengah aku petik. Kalian harus tahu setelah kepulanganku kelak ke Selayar-Makassar-Indonesia, selanjutnya pernikahanku dengan Purie Astari Raisa. Lebih sering kusingkat namanya PARIS. Perempuan cantik keturunan Minang. Kalian harus tahu, kisah cinta kami begitu rumit awalnya. Paris, adalah salah  seorang mahasiswa primadona saat kami kuliah di UNM dulu. Cantik, cerdas dan satu lagi selalu tampil anggun dalam balutan busana menutup aurat sederhana. Saya hanyalah seorang pengagum rahasia yang tak punya keberanian mengungkap rasa. Sahabat selalu menempati rasa diatas segalanya. Saat kutahu Malik sahabatku menyukainya, aku berusaha menepis rasa itu. Saat ia melamarnya, akupun berusaha ikhlas dan memberi support untuknya.

3 bulan kemudian, Malik mengabariku bahwa pernikahnnya  dengan Paris batal. Rasa itu kembali merah. Tumbuh untuknya. Namun sekali lagi aku harus terperih. Kerabatnya melamar. Sejak saat itu kontakku tak lagi ada dengannya. 

Paris, pesona kota ini tak mampu kulukiskan. Namun cinta dan benihnya tak jua tumbuh. Kuakui, gadis-gadis sekampusku di Sorbone cantik. Banyak pula mahasiwi negeri. Namun Paris telah meninggalkan standarisasi yang tinggi. Tak ada yang benar-benar singgah.

Suatu ketika, saat jenuh menguasaiku, kucoba membuka account FB. Hampir 3 tahun tak kusentuh. Cover picturenya masih sama. Sketsa manga seorang gadis berjilbab dengan earphone. Paris, itu gambarnya. Kusketsa saat ia tengah tersenyum. Namun ia tak pernah tahu. Ia bukanlah penyuka music. Saat berkelit dari pertanyaannya aku bilang kalo gadis itu hanya imajinasiku saja. Buktinya earphone dan dia sama sekali gak berhubungan. Ia mengangguk paham. Aku tersenyum dan kututup penjelasan dalam hatiku “music is my life. The earphone is me, and You are a part of me”.

 Kucoba posting kalimat ini di FB: 

“Paris,
bukan karena eiffelmu aku jatuh  hati
atau kota romantismu yang mempesona
bukan pula taman-taman hijaumu yang teduh
hanya saja aku yakin, suatu hari engkau
akan menjadi bagian hidupku
…suatu hari nanti”

Beberapa menit kemudian, sebuah komentar muncul.  

“you're pretty smart to hide the light of me in your eyes. But, heart can feel it even unexposed. No more puzzle. I believe we are a part”. 

Kuklik account itu. Profilenya hanya huruf ‘P’. Namun covernya memberiku pentunjuk lain. Gambar seorang gadis dengan earphone. Persis coverku. Paris. It’s her.
Begitulah awal manis kisah kami setelah beberapa luka sebelumnya. Takdir telah tersusun indah dalam tangan tuhan.

....
0 menit. Aéroports de Paris, Bandara udara paris. Aku telah duduk di kursi dalam pesawat. Hendak kumatikan ponseku, namun sebuah notifikasi BBM muncul. Sebuah pesan dari Paris. Agak panjang tapi aku coba baca.

Bismillah,
“Calon Imamku,  aku selalu percaya dan tunduk pada kehendak Sang Kuasa. Apapun itu aku berusa menerimamu dengan segenap cinta yang kumiliki. Entahlah, kakak harus percaya saat kutuliskan pesan ini hatiku begitu lapang. Selalu siap dengan segala hal. Termasuk jika akhirnya kita juga akan batal nikah. Tapi apa iya setelah kakak bersembunyi dari rasa semuanya akan begitu saja? :p.
Wish, this the last I am being the bride. Aku gak melulu Cuma jadi calon pengantin. Lebih dari itu, aku ingin jadi istri. Kalo bisa istri dari magister hukum lulusan Universite of Prancis, Zulham Akbar. Dirimu.”

Aku hanya tersenyum lalu membalasnya:
Music is my life and I believe you will be my music…”,  lalu kumatikan ponselku.

***
Hening. Air mata. Suara isak. Aku berusaha tegar. Lelehan air mata terus membasahi layar ponselku. Kubaca pesan terakhir Zulham di BBM. Dia ingin aku jadi musiknya. Itu artinya aku harus ceria. Kecelakaan pesawat yang ditumpanginya lagi-lagi hanya menjadikanku calon pengantin. Senyumnya tak akan lagi kulihat. Kamu telah menjadi bagian Paris. Bukan Cuma indah kota dan megah eiffelnya, tapi juga cintanya. Seperti janjiku, aku ikhlas dengan ketetapn ini. Mungkin belum saatnya kukecap manis. Mungkin lain kali. Dengan Zulham Akbar Lainnya.

*Semuanya Sempuna (Bahasa Prancis)

Selayar, 12 Maret 2015.

0 komentar:

Posting Komentar

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html