
Sering kita duduk ditempat ini. Danau kecil dan sebuah batu yang dikelilingi rumput liar. Kamu yang pertama mengajak aku kesini. Menyaksikan 2 ekor angsa yang tengah berenang. Entah kenapa disaat yang sama angsa itu kembali ada di danau ini. Aku menatapinya dengan berusah menggali bahasa filosifis yang semestinya. Semuanya telah beda. Danau ini bahkan terliahat biasa saja. Angsanya juga gak mampu mewakili bahasa apapun. Semuanya diam dan memang seolah diam. Aku beranjak dari batu hitam tepi danau itu menuju tepi jalan yang sepi memetakan kembali keeping kenangan tentangmu. Bunga ilalang yang kusentuh terlihat mati dan tak bicara apa-apa. Apa semua ini? Mengapaa cerita kepergianmu dan semuanya meninggalkan bekas yang hanya membangkai mati. Aku dimana? Mengapa sepi membuaiku dan kamu harus tahu aku benci kemarau ini.
‘kak, aku ingin menjadi bayanganmu. Selalu ada menemanimu mesti dengan bentuk yang berbeda dengan benda aslinya’ katamu waktu itu. Kau pegang tanganku saat berjalan di tepi jalan berdebu ini bersama sentimen mentari yang mulai meninggi.
Mengapa mesti bayangan? Bagaimana jika mentari tak memberi kesempatan untuk berada di sampingku. Lalu pilihanku apa? Bukankah jika aku terus berjalan ke arah cahaya itu engkau malah akan menjadi bayangan yang jatuh di belakangku dan semakin jauh?
‘kak..?’
‘iya’
‘kamu gak lelah melintas di benakku memangnya?’ godamu diiringi seringai senyum manjamu.
Ah, kamu benar-benar membuatku terjebak diruang nostalgia ini.
0 komentar:
Posting Komentar