
Masih menatapi senja yang tampak kemarau. Senja seperti kemarin. Masih terasa sama saat engkau ada disini membagi tawa. Mengenggam tanganku dan sesakali membetulkan rambutmu yang dipermainkan angin. Senja kali ini meski sama dalam tiap sudutnya, rasanya sedikit kering dan gusar. Cahayanya sedikit pucat. Anginnya tak lagi geliat untuk berhembus. Mata nanarku beralih dari air laut yg menguning emas menuju orang yg dari kejauhan sedang asyik dengan symbol bahasa simpul yang terbaca sebagai raut bahagia.
Masih adakah kesempatan untuk memperbaiki semuanya? Tapi untuk apa kubuka ruang maafku demi kamu yang telah mulai berujar lebih baik dari kemarin? Dialog-dialog singkat episode itu muncul dengan cepat dan luap air mataku tak lagi tertahan. ‘beri aku waktu untuk mencintaimu kembali’ Jawabku angkuh dan ragu.
Semuanya tentang penyesalan. Tuhan tak menginginkamu mencintai lelaki yang gak bisa memaafkanmu karena terlampau angkuh dan merasa sempurna. Maka dia mengambilmu dari dunia yang terus menampikkanmu bersama orang-orangya. Maafkan ego ini Senja. Semoga senja lainnya bisa menyapaku saat terbangun pada episode berikutnya. Pada musim semi hijau.
Resumed from ‘Kisah Separu Senja yang Kemarau’ Book
Written by AF Amar
0 komentar:
Posting Komentar