Jumat, 27 Februari 2015

Kisah Separu Senja yang Kemarau #1

Hujan kembali membasahi bumi. Dibalik kaca jendela kupandangi tetesan itu yang mulai membasahi kaca hingga benda-benda diluar sana tampak kabur. Kamu dan hujan adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan menurutku. Seperti awan dan langit. Pantai dan laut.  Gunung dan kabut.  Kamu akan menjadi anak kecil yang lupa diri saat hujan jatuh dari tangkai langit. Dengan berbagai cara akan minta izin agar kubolehkn main hujan. Atau paling tidak membiarkan kedua tangan dan kakimu dibasahinya. Itu kamu dengan cerita hujan. Hari-hari setelahnya aku beljar mencintai hujan dan dirimu lebih dari semuanya. Mencoba menikmati dinginnya air itu saat berjalan di dalamnya. Memejamkan mata. kamu yang menyaksikanku dengan tingkah itu tersenyum bahagia.

‘aku ingin jadi hujan aja’ katamu hari itu.

Hujan dengan kelembutan mampu menumbuhkan keindahan dan kehidupan dipermukaan bumi. Saat ia luruh dan jatuh pada rongga sungai, maka dengan segera ia akan mengalir menuju muara dan tepi pantai. Lalu kembali menjadi uap dan awan yang natinya siap kembali menjadi hujan. Sebuah siklus yang sederhana. Dan yang paling penting, pelangi selalu muncul setelah hujan dengan lapisan warna yang begitu indah. Terus terang aku tak terlalu paham dengan filosifi hujan yang kamu maksud. Tapi lebih dari itu aku mengerti bahwa hatiku ingin lebih lama menghabiskan hidup denganmu. Melewati hujan bersama. Menyaksikan pelangi bersama. Hingga aku benar-benar lupa bahwa malam tak akan berakhir menuju pagi atau juga siang menjadi senja lalu gelap.

Hujan itu perlahan reda, dan entah mengapa langit di sini, di hati ini sepertinya kembali mencucurkan hujan air mata. Mengapa tak lagi mapu kunikamati hujan dengan mata terpejam sepeninggalmu. Mengapa tetesnya hanya mengaburkan pandanganku dari dunia luar yang lebih luas? Bukankah kau telah menjadi hujan dan akan mengizinkanku melihat lebih banyak warna pelangi?

Aku sungguh merindukan hujan di senja kemarau ini.

Resumed from 'Kisah Separu Senja yang Kemarau' Book.Written by AF Amar

0 komentar:

Posting Komentar

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html