Beberapa hari yang lalu, sebuah
musibah menimpah saya. Laptop (baca: istri ke 2) saya dicuri. Kejadiannya tepat
jam 4 pagi menjelang subuh kala saya sedang terbuai mimpi dalam lelap. Saya Cuma
bisa berspekulasi jika pencurinya pasti menertawakan saya saat sedang
mempreteli ’si biru’ laptop saya. Kira-kira kalau mau dideskripsikan guman si
maling, maka ia akan bergumam ‘aduh…ni
anak tidur ato mati? Lelap banget ya!. Udah gitu mulutnya nganga pula,
trus..aduh ilernya kemana-mana lagi. Umh, cute banget sih!!!’ (emang ada
gitu orang ngiler imut? Ngaco ye!!!).
Saya jadi bingung saat terbangun.
Sebab semalam laptop saya juga terbaring di sisiku. Namun yang terjadi saat itu
adalah, pintu kamar saya terbuka, laptop saya tak ada lagi di samping saya, dan
celana beserta sarung saya menghilang. Untuk statement yang terakhir itu fiktif
kok. Kalau pun pencuri itu dalam keadaan horny, gak mungkin celana saya sampe
diambil segala. Najong soalnya!! Yang tersisa tinggal charger dan fannya. Saya begitu
terpukul dan galau saat itu. Saking galaunya, saya langsung bikin telur dadar,
trus makan dengan lahap. (kayaknya yang ini bukan galau ye, tapi lapeer!!!)
gimana nggak terpukul, bayangkan saja mahasiswa tingkat akhir (baca: tua) yang
lagi mesra-mesranya dengan thesis atau skripsi harus terpisahkan dengan hal
tersebut dikarenakan file skripsi saya juga ikut raib beserta laptop tersebut. Pokonya
abis deh. Shadaqallahul adziim deh
pokoknya.
Saya pun teringat akan peristiwa kehilangan
teman saya yang juga hampir mirip scenario keraibannya (emang sinetron pake scenario
segala???). bedanya, saat laptop saya dicuri, saya dalam keadaan tertidur
sementara dia lagi sedang asyiknya ngetik skripsi dan si maling sialan itu datang
menodongkan senjata tajam. Uniknya mereka sempat ada dialog.
‘e, eh… serahkan laptopmu!!!’
ancam si pencuri sambil nodongkan senjatanya. Senjata tajam pastinya yah. Bukan
senjata rahasianya. Teman saya saat itu gak kehilangan akal. Dia coba nego.
‘em, boleh gak pak saya copy file
saya ke flasdisk??’ tawar teman saya sambil menyilangkan tengan di depan
kemaluannya.
‘hah? Apa? Panggil flashdisk?? Panggil
sanaaa!! Teriak sekalian biar saya gorok kamu!!!’ ancamnya dengan muka bingung.
Dikiranya FLASHDISK itu nama bapak kost mungkin. Aduh, pak maling yang mencret,
seharusnya bapak browsing dulu di google. Biar jadi pencuri yang berwatak
cyber.
‘atau saya print dulu pak…’ tawar
temanku lagi dengan bodonhya.
‘ah, TIDAK. SERAHKAN SEKARANG!!!’
Semuanya berlalu dengan cepat. Begitu
teman saya berada pada kesadaran yang sebenarnya, dia langsung nangis dan
berlari ke kamar mandi trus shower-an.
Saya kemudian mikir, mengapa ya
pencuri itu tidak merubah pola pikir sekalian imejnya gitu. Maksud saya gimana
caranya mereka tetap jadi pencuri tapi dengan itikad yang revulosioner. (apa
coba???) misalnya saat mereka mencuri sebuah laptop, mereka menyediakan CD
blank buat backup atau juga mungkin dengan sebuah flashdisk. Sehingga material
boleh mereka curi namun hal yang berkaitan masa depan semisal skripsi tetap
mereka tinggalkan. Sebab bukan tidak mungkin diantara korbannya adalah calon
pengusaha. Jadi mereka bisa mendatangi korbannya lagi saat jaya untuk dicuri
kembali. Pola pikir mereka harusnya future-deep
planning lah.
Bayangkan misalnya saat teman
saya dirampok saat itu, maka redaksi dialog mereka akan sebagai berikut:
‘eh, serahkan laptopnya dek…’
‘aduh, saya lagi ngetik pak. Saya udah mau ujian
soalnya. Deadline pak..’
‘ya, udah bapak tunggu sekalian selesai baru saya
ambil. Atau kalau misalnya adik mau kami pulang cepat ini ada flashdisk. Di cut aja datanya dek. Ngantuk soalnya
kami’.
‘well, baiklah pak, daripada anak istri anda
menunggu, saya cut aja deh. Atau mau
saya buatkan kopi dulu pak??’
‘oh, gak usah dek, tak ngerepotin ntar.’
‘nih, laptopnya pak. Hati-hati di jalan ya pak’
‘ya,..makasih banyak dik…’
Gimana? Enak kan? Tidak ada unsur kekerasan. Cuma kesannya
bukan pencurian, melainkan MENYUMBANG. Harusnya ada LSM yang membawahi mereka
agar penyuluhan dan sosialisai bersifat kuntinu. Sehingga pencuri-pencuri itu
juga dibekali dengan wawasan humanisme.
Hehehe, ya udah lah, itu Cuma mimpi gila saya dalam
mengobati kersahan hati saya saat ini. Kalo ada bisa tertawa syukur-syukur,
atau mungkin ada yang terinspirasi menjadi maling revolusiner???
0 komentar:
Posting Komentar