Kamis, 16 Februari 2012

Santri gandul


Assalamu alaikum warahmatullahi wabarokatuh,
Alhamdulillah rabbil alamin wa ihdinassiratol mustaqim. Semoga saat membaca postingan ini semuanya dalam lindungan yang Maha kuasa. Gak ada yang cacingan, gak juga kukunya cantengan serta gak ada paku dikepalanya. Lah, kok gitu? Kalo misalnya saat membaca postingan ini kawan-kawan dalam keadaan cacingan akut (mang ada gitu?) pasti membacanya sambil garuk pantat sembari nyabutin cacing yang lagi pada desakan di pantat. Jatuhnya kalian gak konsen dengan isi tulisan Ini. Trus kalo misalnya kuku kalin lagi cantengan pasti kalian gak bakal bisa maen bola (hubungannya dengan membaca apaan?). trus yang ada paku di kepala? Oh, kalo yang itu namanya Kuntilanak. (Waduh, tambah gak nyambung).

Mungkin ada (bahkan mungkin tak ada)  yang bertanya napa di bagian muqaddimah (pembukaan) post ini ada bahasa arab-ayat-alfatihah-nya. Gue pengen ngasi tahu bahwa dibalik tampang sangar ini (baca: cacingan) ada jiwa anak pesantren. Meskipun kesempurnaan ini harus ternodai oleh fakta yang sangat menyakitkan bahwa gue sama sekali gak bisa bahasa Arab. Tamat dari pesantren tempat gue mondok gue malah lebih mahir bahasa sapi di bandingkan bahasa onta, eh maksud saya bahasa arab. Hal ini bukan dikarenakan uztaz dan uztazah saya gak bisa ngajar melainkan memang guenya yang gak bisa mencerna. Biasalah, namanya juga IQ tengkurap (bangga banget yah jadi orang bodoh). Faktor berikutnya adalah pesantren tempat gue mondok terletak jauh dari kota dan bahkan lebih mirip rumah karantina di rimba. Binatang paling sering terlihat adalah sapi karena sekeliling wilayah pondok terdiri dari hamparan rumput hijau. Saking suburnya rumput tersebut kadang terbesit keinginan dalam hati tuk mencicipinya. Selama 2x48 jam santri bakal terus-terusan mendengar suara sapi dibandingkan pelajaran bahasa arab yang Cuma 2x45 menit dalam kelas. So, nggak heran kalo banyakan santri termasuk saya lebih fasih ngucapin ‘ooooeeeeee…’ dibandingkan ngucapin na’am yaa uztaazzz…

Ada banyak cerita yang terukir semasa mondok. Dan banyakan dari kisah itu adalah kisah konyol. Salah satunya kisah yg hendak saya ceritakan berikut ini. Sebelumnya gue gak pernah tahu kalo namanya nyantri itu sangat dilarang tuk ketemu dengan santriwati. Saat itu, gue udah tiga hari berstatus santri.  Saat gue masuk di pesantren tersebut, kebetulan masih ada kerabat saya juga masih nyantri. Dia kelas 3 sementara gue kelas 1. Suatu malam, tepatnya sabtu malam sepulang dari sholat isya, dia memberi saya minuman sarabba’. Namun sebelumnya ia telah minta izin ama pimpinan pondok untuk ngasi saya minuman tersebut. Maka dengan senang hati saya menerimanya. Keesokan harinya, di hari ahad, gue bermaksud tuk ngembalikan wadah minuman yang tadi malam. Maka tanpa merasa bersalah setelah habis mandi pagi gue berjalan menyusuri koridor kelas menuju asrama santi putri. Tanpa basa-basi gue langsung masuk pintu asrma putri sehabis salam. Begitu gue masuk, semua santri putrid natap gue dengan pandangan keheranan. Gue juga yang gak tahu apa-apa tetap merasa nyaman. Gue perhatiin kesekeliling ruangan, semuanya pada natap. Salting.gue pipis lalu nangis,…gak, itu Cuma hayalan gue.
“ada Ucy?” Tanya gue memecah keheningan dalam keheranan itu.
Gak ada jawaban dari mereka. Gue kemudian mikir apa mungkin pertanyaan gue yang salah kali. Gue spek sekali lagi. “Ucy-nya ada nggak?”
“Ucy yang mana?” jawab salah seorang santriwati yang perangai lebih tinggi dariku. Belakangan gue tahu namanya Patra.
“ucy????” tanyaku balik.
Mereka sepertinya semakin heran. Dan kemudian gue sadar, astaga! Ngapain jug ague nanyain teman SD gue. Nama kerabat gue kan namanya Ani. Gue makin salting. Gue garuk-garuk pala sambil guling-guling.
“em, maksud,..gu..gue K’ Ani”.
“iya, ada apa dengan saya?” seseorang menyahut tepat di samping kanan saya. oh
Bodohnya gue. Gue baru nyadar ternyata dari tadi Ani berdiri di samping kanan. Mata gue kemana tadi ya? Ani cepat manarik gue keluar dari pintu asrama. Dia menoleh kiri- kanan. Kemudian dia berbisik ke gue, “lo bisa dihukum ama pimpinan pondok kalo ketahuan masuk asrama putri”.
“Masa sih?” kata gue semakin bloon.
“Cewek ama cowok tuh dilarang tuk ketemu tanpa izin. Apalagi masuk asrama gak ada alasan apapun” tambahnya menjelaskan.
Keesokan harinya pada saat upacara dihari senin, pimpinan pondok memberikan amanah. Ternyata pembicaraannya tertuju pada saya. Hanya saja dia gak nyebut nama. Tapi, itu sama aja karena mata teman-teman gue tertuju pada saya. Sementara saya menatap tiang bendera dengan mesranya. Gue gak sanggup beradu pandang dengan pimpinan pondok. Bukan karena gue sayang atau cinta (emang gue cowok apaan), tapi karena malu. Pasrah. Kalo ada pilihan hari itu, maka gue lebih milih jadi tiang bendera aja deh.



                                           

0 komentar:

Posting Komentar

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html