Assalamu alaikum warahmatullahi
wabarokatuh,
Alhamdulillah rabbil alamin wa ihdinassiratol mustaqim. Semoga saat
membaca postingan ini semuanya dalam lindungan yang Maha kuasa. Gak ada yang
cacingan, gak juga kukunya cantengan serta gak ada paku dikepalanya. Lah, kok
gitu? Kalo misalnya saat membaca postingan ini kawan-kawan dalam keadaan
cacingan akut (mang ada gitu?) pasti membacanya sambil garuk pantat sembari
nyabutin cacing yang lagi pada desakan di pantat. Jatuhnya kalian gak konsen
dengan isi tulisan Ini. Trus kalo misalnya kuku kalin lagi cantengan pasti
kalian gak bakal bisa maen bola (hubungannya dengan membaca apaan?). trus yang
ada paku di kepala? Oh, kalo yang itu namanya Kuntilanak. (Waduh, tambah gak
nyambung).
Mungkin ada (bahkan mungkin tak
ada) yang bertanya napa di bagian
muqaddimah (pembukaan) post ini ada bahasa arab-ayat-alfatihah-nya. Gue pengen
ngasi tahu bahwa dibalik tampang sangar ini (baca: cacingan) ada jiwa anak
pesantren. Meskipun kesempurnaan ini harus ternodai oleh fakta yang sangat
menyakitkan bahwa gue sama sekali gak bisa bahasa Arab. Tamat dari pesantren
tempat gue mondok gue malah lebih mahir bahasa sapi di bandingkan bahasa onta,
eh maksud saya bahasa arab. Hal ini bukan dikarenakan uztaz dan uztazah saya gak
bisa ngajar melainkan memang guenya yang gak bisa mencerna. Biasalah, namanya
juga IQ tengkurap (bangga banget yah jadi orang bodoh). Faktor berikutnya
adalah pesantren tempat gue mondok terletak jauh dari kota dan bahkan lebih
mirip rumah karantina di rimba. Binatang paling sering terlihat adalah sapi
karena sekeliling wilayah pondok terdiri dari hamparan rumput hijau. Saking
suburnya rumput tersebut kadang terbesit keinginan dalam hati tuk mencicipinya.
Selama 2x48 jam santri bakal terus-terusan mendengar suara sapi dibandingkan
pelajaran bahasa arab yang Cuma 2x45 menit dalam kelas. So, nggak heran kalo
banyakan santri termasuk saya lebih fasih ngucapin ‘ooooeeeeee…’ dibandingkan ngucapin na’am yaa uztaazzz…
Ada banyak cerita yang terukir
semasa mondok. Dan banyakan dari kisah itu adalah kisah konyol. Salah satunya
kisah yg hendak saya ceritakan berikut ini. Sebelumnya gue gak pernah tahu kalo
namanya nyantri itu sangat dilarang tuk ketemu dengan santriwati. Saat itu, gue
udah tiga hari berstatus santri. Saat
gue masuk di pesantren tersebut, kebetulan masih ada kerabat saya juga masih
nyantri. Dia kelas 3 sementara gue kelas 1. Suatu malam, tepatnya sabtu malam
sepulang dari sholat isya, dia memberi saya minuman sarabba’. Namun sebelumnya ia telah minta izin ama pimpinan pondok
untuk ngasi saya minuman tersebut. Maka dengan senang hati saya menerimanya.
Keesokan harinya, di hari ahad, gue bermaksud tuk ngembalikan wadah minuman
yang tadi malam. Maka tanpa merasa bersalah setelah habis mandi pagi gue berjalan
menyusuri koridor kelas menuju asrama santi putri. Tanpa basa-basi gue langsung
masuk pintu asrma putri sehabis salam. Begitu gue masuk, semua santri putrid
natap gue dengan pandangan keheranan. Gue juga yang gak tahu apa-apa tetap
merasa nyaman. Gue perhatiin kesekeliling ruangan, semuanya pada natap.
Salting.gue pipis lalu nangis,…gak, itu Cuma hayalan gue.
“ada Ucy?” Tanya gue memecah
keheningan dalam keheranan itu.
Gak ada jawaban dari mereka. Gue
kemudian mikir apa mungkin pertanyaan gue yang salah kali. Gue spek sekali
lagi. “Ucy-nya ada nggak?”
“Ucy yang mana?” jawab salah
seorang santriwati yang perangai lebih tinggi dariku. Belakangan gue tahu
namanya Patra.
“ucy????” tanyaku balik.
Mereka sepertinya semakin heran.
Dan kemudian gue sadar, astaga! Ngapain jug ague nanyain teman SD gue. Nama
kerabat gue kan namanya Ani. Gue makin salting. Gue garuk-garuk pala sambil
guling-guling.
“em, maksud,..gu..gue K’ Ani”.
“iya, ada apa dengan saya?”
seseorang menyahut tepat di samping kanan saya. oh
Bodohnya gue. Gue baru nyadar
ternyata dari tadi Ani berdiri di samping kanan. Mata gue kemana tadi ya? Ani
cepat manarik gue keluar dari pintu asrama. Dia menoleh kiri- kanan. Kemudian
dia berbisik ke gue, “lo bisa dihukum ama pimpinan pondok kalo ketahuan masuk
asrama putri”.
“Masa sih?” kata gue semakin
bloon.
“Cewek ama cowok tuh dilarang
tuk ketemu tanpa izin. Apalagi masuk asrama gak ada alasan apapun” tambahnya
menjelaskan.
Keesokan harinya pada saat
upacara dihari senin, pimpinan pondok memberikan amanah. Ternyata
pembicaraannya tertuju pada saya. Hanya saja dia gak nyebut nama. Tapi, itu
sama aja karena mata teman-teman gue tertuju pada saya. Sementara saya menatap
tiang bendera dengan mesranya. Gue gak sanggup beradu pandang dengan pimpinan
pondok. Bukan karena gue sayang atau cinta (emang gue cowok apaan), tapi karena
malu. Pasrah. Kalo ada pilihan hari itu, maka gue lebih milih jadi tiang
bendera aja deh.
0 komentar:
Posting Komentar