Kamis, 16 Februari 2012

santri gandul 2


Nyantri itu  banyak suka-dukanya. Banyak keseruan-keseruan yang tiap hari terjadi dengan teman-teman. Dan selalu terselip cerita yang mungkin gak bakal pernah dilupain. Dimalam hari sehabis sholat isya, orang akan disibukkan  dengan hafalan dan materi pelajaran di kelas. Esoknya bertemu dengan guru-guru yyang juga gak kalah serunya. Hanya saja teman-teman seangkatan saya banyak yang freak. Bayangin aja, teman cowok akan sama sibuknya dipagi hari tuk persiapan ke kelas. Tapi anehnya begitu absen pelajaran pertama semua bakal hilang dari kelas. Semacam sebuah siklus sesat yang dipertahankan oleh teman-teman saya. Saat guru mengatakan “isma’u asmakum…(dengarkan nama kalian)”  maka kelas pun akan ramai oleh sahutan “na’aam (ya bu/pak)”. Begitu absen kelar maka satu persatu akan keluar dengan alasan pipis dan tak akan pernah lagi kembali ke kelas kecuali untuk absen pelajaran berikutnya dan juga kembali dengan siklus sesat seperti sebelumnya. Yang tersisa hanya 2 biji manusia, yaitu teman Gue, Nursan dan gue sendiri. Sementara yang perempuan tetap lengkap.
Biasanya jika yang masuk guru cowok, maka pelajaran gak akan langsung dimulai, melainkan perburuan makhluk sesat akan dimulai. Seluru pelosok negeri akan didatangi, eh maksud saya seluruh pelosok asrama putra akan digeledah tuk menemukan teman-teman gue. Dan anehnya, asrama selalu kosong.
Suatu hari ketika perburuan itu terjadi, gue merasa takjub. Ternyata teman-teman gue itu cerdas juga main petak umpeknya. Bahkan sempat gue curiga jangan-jangan teman saya ini udah memiliki kemampuan berkemoflase layaknya bunglon namun saya tidak pernah mengetahuinya. Tapi, darimana mereka mendapatkan ilmu itu?
Gue berjalan ke arah belakang asrama dimana banyak semak yang rimbun. Gue menyelidik dengan keras kali aja teman gue udah berkemoflase sewarna dengan semak. Gak lama kemudian semak itu bergerak pertanda ada makhluk di rimbunannya. Gue berjalan mendekat kearah pagar agar lebih dekat dengan benda bergerak tersebut. Gue ngeliat benda yang gerak di balik semak itu berwarna agak orange kecoklatan. Betul dugaan gue mereka punya kemampuan tuk berkemoflase dengan menyamakan warna  dilingkungannya. Tapi, maaf kayaknya gue yang jereng. Gak mungkin warna orange menyatu dengan hijaunya semak. Setelah gue perhatikan lebih teliti lagi teryata, anjrit!!! Moyang babi juling!!! Itu bukan teman gue. Sepertinya sekawanan binatang. SAPI. Yang keyakinan saya menjadi mantap setelah ngeliat pantatnya belang putih.
Gue segera ninggalin tempat tersebut beranjak ke sisi lain di asrama itu. Di sana ada pohon kayu cina yang diameternya lumayan gedong. Daunnnya rimbun. Gue ngitari pohon tersebut seraya tawaf. Ada yang aneh. Ada seonggok sepatu di bawah pohon tersebut. Kalo nggak salah 3 pasang. Dalam hati gue bergumam “semborono banget nih anak-anak. Sepatu kok di simpan di bawah pohon bukan di rak”.
Berlalu tinggalin pohon dan hendak kembali ke kelas tuk melaporkan bahwa gue gak mendapat hewan buruan. Salah. Gue gak berhasil nemuin teman-temanku. Itu laporannya. Dalam perjalan menuju kekelas gue dapat ilham. Gimana kalo misalnya sepatu tadi adalah sepatu teman-temanku. Pasti mereka ada di atas pohon tersebut ( harusnya dari tadi lo mikir Panjul). Gue berlari menuju pohon tadi. Semoga teman-temanku masih di atas sana. Ternyata Uztaz,  Panggilan untuk guru di pesntren udah ada di TKP.
Dugaan gue benar. Teman-temanku ngantri menuruni pohon tersebut. Jumlahnya lebih dari sepuluh orang. Dan bisa dipastikan mereka akan habis dimutilasi. Setelah penguburan mayat mereka di kubangan kebo, kitapun pesta atas keberhasilan besar ini. sebuah prestasi karena membongkar sindikatnya. Tapi sayang semua yang gue bilang tadi bohong. Mereka gak dimutilasi tapi disiram bensin trus dibakar hidup layaknya tikus. Gak, itu juga gak benar. Mereka hanya dihukum mengisi kolam masjid dengan air dari sungai. Sementara yang lainnya melanjutkan belajar.
Sepulang dari kelas, gue didera nyeri yang hebat di perut. Tapi gak mungkin karena akan menstruasi. Kelamin gue tegak kok. Mules. Gue ngelinjang dan berlari ke toilet. Sial. Ada yang mendahului. Gak mungkin aku nunggu. Gue berlari menuju semak di belakang asrama. Sialnya, belum sempat masuk ke semak lebih jauh, semuanya tumpah ruah menggemah membahana memecah langit. Tapi, ya udahlah yang penting nyawa ini terselamatkan. Gue nikmatin prosesi taking a dumb itu layaknya semedi biar awet muda. Gue merem melek menikmatinya. Tiba-tiba ada suara yang muncul.
“maza ta’mal hunaaka? (lagi ngapain disitu)” suara itu muncul dengan nyaring dan lembutnya ditelinga gue. Namun gue masih merem nikmati sisa-sisa birahi (apa sih, buang air kok terangsang).
“anta, yaa Awal, maza ta’mal?” lagi-lagi suara itu. Tapi sepertinya gue kenal. Gue membuka sebelah mata dan,…oh My, itu suara pimpinan pondok. Dia natap gue sembari nutup lobang hidung. Tatapannya tajam. Tapi apa mugkin itu tatapan suka? Gak mungkin sebab tatapannya bukan ke mata gue, tapi…anjrit gak sadar gue berdiri tanpa celana. Faghfirlii, Uztaz…
Gue berlari pergi dengan sekuat tenaga, tanpa gue sadari bayangan semak di sekitar menjadi slow motion layaknya film-film. Namun ada yang ngegandul kuat. SETAAANNN!!!. Gua belum juga pake celana.

0 komentar:

Posting Komentar

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html