Nyantri
itu banyak suka-dukanya. Banyak
keseruan-keseruan yang tiap hari terjadi dengan teman-teman. Dan selalu
terselip cerita yang mungkin gak bakal pernah dilupain. Dimalam hari sehabis
sholat isya, orang akan disibukkan
dengan hafalan dan materi pelajaran di kelas. Esoknya bertemu dengan
guru-guru yyang juga gak kalah serunya. Hanya saja teman-teman seangkatan saya
banyak yang freak. Bayangin aja, teman cowok akan sama sibuknya dipagi hari tuk
persiapan ke kelas. Tapi anehnya begitu absen pelajaran pertama semua bakal
hilang dari kelas. Semacam sebuah siklus sesat yang dipertahankan oleh
teman-teman saya. Saat guru mengatakan “isma’u
asmakum…(dengarkan nama kalian)” maka kelas pun akan ramai oleh sahutan “na’aam (ya bu/pak)”. Begitu absen kelar
maka satu persatu akan keluar dengan alasan pipis dan tak akan pernah lagi
kembali ke kelas kecuali untuk absen pelajaran berikutnya dan juga kembali
dengan siklus sesat seperti sebelumnya. Yang tersisa hanya 2 biji manusia,
yaitu teman Gue, Nursan dan gue sendiri. Sementara yang perempuan tetap
lengkap.
Biasanya jika
yang masuk guru cowok, maka pelajaran gak akan langsung dimulai, melainkan
perburuan makhluk sesat akan dimulai. Seluru pelosok negeri akan didatangi, eh
maksud saya seluruh pelosok asrama putra akan digeledah tuk menemukan
teman-teman gue. Dan anehnya, asrama selalu kosong.
Suatu hari
ketika perburuan itu terjadi, gue merasa takjub. Ternyata teman-teman gue itu
cerdas juga main petak umpeknya. Bahkan sempat gue curiga jangan-jangan teman
saya ini udah memiliki kemampuan berkemoflase layaknya bunglon namun saya tidak
pernah mengetahuinya. Tapi, darimana mereka mendapatkan ilmu itu?
Gue berjalan ke arah belakang asrama dimana banyak semak yang rimbun. Gue menyelidik dengan keras kali aja teman gue udah berkemoflase sewarna dengan semak. Gak lama kemudian semak itu bergerak pertanda ada makhluk di rimbunannya. Gue berjalan mendekat kearah pagar agar lebih dekat dengan benda bergerak tersebut. Gue ngeliat benda yang gerak di balik semak itu berwarna agak orange kecoklatan. Betul dugaan gue mereka punya kemampuan tuk berkemoflase dengan menyamakan warna dilingkungannya. Tapi, maaf kayaknya gue yang jereng. Gak mungkin warna orange menyatu dengan hijaunya semak. Setelah gue perhatikan lebih teliti lagi teryata, anjrit!!! Moyang babi juling!!! Itu bukan teman gue. Sepertinya sekawanan binatang. SAPI. Yang keyakinan saya menjadi mantap setelah ngeliat pantatnya belang putih.
Gue berjalan ke arah belakang asrama dimana banyak semak yang rimbun. Gue menyelidik dengan keras kali aja teman gue udah berkemoflase sewarna dengan semak. Gak lama kemudian semak itu bergerak pertanda ada makhluk di rimbunannya. Gue berjalan mendekat kearah pagar agar lebih dekat dengan benda bergerak tersebut. Gue ngeliat benda yang gerak di balik semak itu berwarna agak orange kecoklatan. Betul dugaan gue mereka punya kemampuan tuk berkemoflase dengan menyamakan warna dilingkungannya. Tapi, maaf kayaknya gue yang jereng. Gak mungkin warna orange menyatu dengan hijaunya semak. Setelah gue perhatikan lebih teliti lagi teryata, anjrit!!! Moyang babi juling!!! Itu bukan teman gue. Sepertinya sekawanan binatang. SAPI. Yang keyakinan saya menjadi mantap setelah ngeliat pantatnya belang putih.
Gue segera
ninggalin tempat tersebut beranjak ke sisi lain di asrama itu. Di sana ada
pohon kayu cina yang diameternya lumayan gedong. Daunnnya rimbun. Gue ngitari
pohon tersebut seraya tawaf. Ada yang aneh. Ada seonggok sepatu di bawah pohon
tersebut. Kalo nggak salah 3 pasang. Dalam hati gue bergumam “semborono banget
nih anak-anak. Sepatu kok di simpan di bawah pohon bukan di rak”.
Berlalu
tinggalin pohon dan hendak kembali ke kelas tuk melaporkan bahwa gue gak
mendapat hewan buruan. Salah. Gue gak berhasil nemuin teman-temanku. Itu
laporannya. Dalam perjalan menuju kekelas gue dapat ilham. Gimana kalo misalnya
sepatu tadi adalah sepatu teman-temanku. Pasti mereka ada di atas pohon
tersebut ( harusnya dari tadi lo mikir Panjul). Gue berlari menuju pohon tadi.
Semoga teman-temanku masih di atas sana. Ternyata Uztaz, Panggilan untuk guru
di pesntren udah ada di TKP.
Dugaan gue
benar. Teman-temanku ngantri menuruni pohon tersebut. Jumlahnya lebih dari
sepuluh orang. Dan bisa dipastikan mereka akan habis dimutilasi. Setelah
penguburan mayat mereka di kubangan kebo, kitapun pesta atas keberhasilan besar
ini. sebuah prestasi karena membongkar sindikatnya. Tapi sayang semua yang gue
bilang tadi bohong. Mereka gak dimutilasi tapi disiram bensin trus dibakar
hidup layaknya tikus. Gak, itu juga gak benar. Mereka hanya dihukum mengisi
kolam masjid dengan air dari sungai. Sementara yang lainnya melanjutkan
belajar.
Sepulang dari
kelas, gue didera nyeri yang hebat di perut. Tapi gak mungkin karena akan
menstruasi. Kelamin gue tegak kok. Mules. Gue ngelinjang dan berlari ke toilet.
Sial. Ada yang mendahului. Gak mungkin aku nunggu. Gue berlari menuju semak di
belakang asrama. Sialnya, belum sempat masuk ke semak lebih jauh, semuanya
tumpah ruah menggemah membahana memecah langit. Tapi, ya udahlah yang penting
nyawa ini terselamatkan. Gue nikmatin prosesi taking a dumb itu layaknya semedi biar awet muda. Gue merem melek
menikmatinya. Tiba-tiba ada suara yang muncul.
“maza ta’mal
hunaaka? (lagi ngapain disitu)” suara itu muncul dengan nyaring dan lembutnya
ditelinga gue. Namun gue masih merem nikmati sisa-sisa birahi (apa sih, buang
air kok terangsang).
“anta, yaa
Awal, maza ta’mal?” lagi-lagi suara itu. Tapi sepertinya gue kenal. Gue membuka
sebelah mata dan,…oh My, itu suara pimpinan pondok. Dia natap gue sembari nutup
lobang hidung. Tatapannya tajam. Tapi apa mugkin itu tatapan suka? Gak mungkin
sebab tatapannya bukan ke mata gue, tapi…anjrit gak sadar gue berdiri tanpa
celana. Faghfirlii, Uztaz…
Gue berlari
pergi dengan sekuat tenaga, tanpa gue sadari bayangan semak di sekitar menjadi
slow motion layaknya film-film. Namun ada yang ngegandul kuat. SETAAANNN!!!.
Gua belum juga pake celana.
0 komentar:
Posting Komentar