Gak ada riuh yang terdengar.
Langit makassar masih terdekorasi monoton oleh gelap malam yang sepertinya akan
hujan. Tapi gue masih betah di sini, di teras ini menyusuri palung hati dan
imajiku merangkai barisan huruf menjadi kata. Ya, masih kata-kata tanpa
pembuktian. Aku harusnya hadir disitu. Menemani pergantian usiamu.
Kamu ingat kan tanggal itu? Kaum
alay menyebutnya tanggal jadian. Gue pun menyebutnya demikin karena sampai saat
ini gue masih yakin kalo diri ini pun masih alay. Hanya saja mungkin levelnya
sedikit tobat. Yang penting tanggal itu gak kamu bingkai trus dikalungi bunga
dan dupa-dupaan. Gue khawatir kamu Musyrik Sayang.
Gue, eh alay banget yah. Well,
aku bukanlah pria dengan sejuta kejutan yang menjadi favorite wanita. Sisi
romantisme pun jauh dari tabiat ini. Kemewahan apalagi. Kegantengan iyah sih.
Maaf sedekit pede. Sumpah, gak tahu dimulai dari mana dan dengan kalimat apa
yang bisa kutuliskan agar ia menjadi sesuatu yang terlihat istimewa. Mencintai
adalah sebuah risalah hati. Orang boleh berfikir kita gak waras terhadap cinta
kita sebab mereka tidak pada rasa yang mungkin bisa menghentikan detak
jantung kita kapan saja. Cinta adalah persoalan waktu dan kepekaan.
Kadang kita jatuh cinta pada seseorang hanya saja waktunya yang tidak tepat.
Mungkin kita yang terlalu terlambat datang kemuara hati itu atau juga terlalu
cepat. Maka cinta itu tak pernah salah.
Mencintai adalah sebuah kebebasan secara naluri dan hakikat. Sebab Tuhan telah
menganugerahi kita rasa dalam bentuk yang paling suci. Sementara kepekaan, tiap
manusia mendefenisikannya berbeda. Sebagian menganut pembenaran bahwa kepekaan
adalah respon fisik yang senantiasa harus selalu ditunjukkan tiap kali pasangan
kekasih butuh. Perhatian. Begitu kita menyimpulkannya. Tidakkah hal itu
terlalu sempit? Bagaimana jika kepekaan
dia lebih sering ditujukan langsung pada tuhan melaui do’a terbaik untuk kita?
Bagaimana bila kepekaan itu disampaikan melalui kebebasan agar kita bisa
leluasa dengan karya dan prestasi kita?
Cinta bukan sekedar persoalanya
dunia milik kita berdua. Melainkan bagaimana memberi cinta ruang untuk lebih
elok di matamu. Mencinta ibarat menggem merpati. Terlalu erat akan mati dan
terlalu longgar akan lepas. Analogi lain cinta itu seperti menggenggam pasir.
Kamu harus belajar agar butirannya tidak terjatuh habis oleh terlalu
mengegkangnya dalam genggam itu. Disinilah kepekaan itu.
Mencintai adalah soal pilihan.
Tapi aku percaya bahwa kamu adalah salah satu takdir yang indah daalam hidupku.
Sekalipun bila masanya kamu hanya menjadi cerita, maka kamu akan selalu
ceritakan sebagai kisah indah untuk makhluk lainnya. Mungkin juga anak-anakku
saat mereka telah pantas mendengarkan cerita tentangmu.
Dipertambahan usiamu ini, ku
ucapkan do’a terbaik. Semoga kebahagian tetap menjadi selendang abadimu. Amin.
untuk siapa ini bang ? :P
BalasHapusuntuk seseorang yg indah. heheh
BalasHapus