AKHIRNYA
PUN AKU SADAR, SEMUANYA AKAN BERMUARA PADA KEHENDAK SANG PEMILIK TAKDIR.
SEPERTI LURUHNYA TITIK AWAN MENJADI TETES HUJAN, ATAU KEPERGIAN SENJA SAAT
BERANJAK GELAP.. Status terupdate. Beberapa detik kekmudian ‘like’
dari teman-teman bermunculan pada beranda pemberitahuan.
…
Dunia ini menjadi bagian tak terpisahkan dariku. Fesbuk. Begitu
orang-orang selalu menyebutnya. Kamu bisa berbagi kenangan, cerita, air mata,
tawa dan emosi lainnya. Sekalipun dengan mereka yang tak kamu kenali sama sekali.
Akupun salah satu yang ketagihan dengan socmed yang
satu ini. Meski dengan alasan yang cukup beda. Padanya bisa kutuliskan ide-ide
literasi yang sekedar muncul dalam palung benak. Menulis dan menulis.
Merasa begitu berharga jadi manusia saat ideku mampu dinikmati oleh manusia lainnya.
Entah berapa banyak kalimat yang telah kutorehkan. Tapi tak bisa kupastikan berapa banyak
yang memang layak untuk dinikmati. Kepuasan tetaplah kepuasan.
Beberapa hari kemudian kamu tiba-tiba muncul dalam cerita ini. Yang
bisa kuingat adalah kalimat-kalimatmu yang
terdengar terperih melalui balutan aksara puitis. Tersentuh. Itu yang kurasakan.
Maka kumulai menelusuk lebih dalam asal luka itu.
Semakin hari justru semakin kurasa bisa mengerti perihmu.
Sebab aku pernah pada rasa yang sama. Mencintai bintang yang
hanya bisa ada untuk langit. Bukan buatku. Itu yang bisa ku raba darimu. Sosoknya begitu sempurna
di matamu. Dan dialah pemilik rasa yang
ada di bilikhatimu. Kau mencintainya dengan alasan yang hanya bisa terpahami olehmu.
“Assalamualaikum, gimana kabarnya kak? “.
Itulah sapaan awal darimu. Awal dari segala cerita kita. Keakrban itu semakin berlanjut.
Kamu banyak bercerita tentang sosok dia. Sekali lagi kukatakan dia istemewa bagimu.
Namun bagimu memilki dia adalah sebuah kemustahilan. Yang kupahami pun demikian,
cinta tetap cinta. Memilkinya hanyalah bagian lain dari rasa itu yang
kusebut anugerah. Tapi cinta bukan anugerah, melainkan keajaiban.
Sebab alasannya kadang tak terjangkau oleh logika dan hanya disentuh oleh rasa.
Entah sejak kapan dada
kiri tempat Tuhan meletakkan jantungku selalu tergetar saat membaca pesan-pesanmu. Membuatku begitu berhasrat mengeluarkanmu dari luka itu menuju tawa.
Melihatmu kembali ceria meski hanya melalui gambaran emoticon pada chat fesbuk-ku.
Tapi aku tak ingin memaksamu menjadi dewasa seperti ingin ‘sang istimewa’ itu.
Karena aku sendiri tak punya rumusan dan defenisi dari kata ‘dewasa’ itu.
Tiap hari, malam, pagi juga sore ku tunggu kamu pada beranda obrolanku.
Saat obrolanmu aktif dan kalimat muncul, sumringahku tak terbendung.
Kadang merasa sedikit malu pada diriku sendiri saat kulihat segaris senyum yang
tampak terbayang pada LCD laptopku. Aku jatuh cinta padamu,
dan aku belum berani mengakuinya. Karena ku tahu, mungkin juga takut sebab dia dan sosoknya masih merajai kabid hatimu.
‘boleh aku meminta sesuatu kak?’ chatmu pada suatu hari berikutnya.
‘apa?’ balasku singkat. Sesaat kemudian, kubaca pesanmu yang
berisi permintaan. Kamu ingin aku memanggilmu dengan panggilan yang
sering dipakai olehnya buatmu. Panggilan sayang.
Jelas aku menolak sebab aku dan dia memang tak sama. Rasa
cintamu ke dia mungkin sangat besar, tapi antara aku dan dia mungkin akulah yang
memiliki cinta yang lebih besar. Dan itu yang kamu tak tahu.
Sebab aku selalu bersembunyi dalam diam dan keceriaan yang kuberikan.
Entah sejak kapan kita mulai tak sungkan lagi dengan kata ‘sayang’.
Tapi aku lebih sering memanggilmu ‘jelek’. Kata itu bukan dalam arti sebenarnya.
Melainkan sandi dari kata ‘cantik dan sayang’ yang tak bisa kujelaskan dalam bahasaku.
Aku pun mulai mengenalkanmu pada Tuhan melalui do’aku.
Berharap engkau tetap bahagia dalam tiap tarikan nafasmu. Aku mencintaimu‘jelek’!.
Sedikit keras kepala. Tapi hal itu justru makin membuatku menyayangimu dalam skala mampuku.
Kamu tak pernah tahu bahwa aku lebih keras kepala lagi.
Hanya saja aku berusaha menjadi lembut buatmu. Buat cinta yang mulai tumbuh di sini, di
hati ini. Lagi-lagi aku belum berani mengakuinya. Lagi karena dia yang
kupahami masih ada. Tapi kamu membuatku haru, menahan tangis. Kamu berani mengatakan
rasa itu saat aku sendiri mulai ragu untuk mencintai diriku sendiri. ‘Aku mencintai kakak’. Katamu pada suatu percakapan.
Hanya kubalas dengan ‘hehehe’. Kutinggalkan percakapan kita waktu itu.
Menuju teras rumah
dan kutatap langit yang penuh bintang. ‘Terima kasih telah mengindahkanku
di hatimu’. Batinku diiringi air mata yang mulai riak.
Entah dimulai dari mana perih itu harus kembali muncul. Kali
ini menghukumi kita yang tengah menikmati rasa itu. Seperti senja yang
beranjak gelap. seperti pelangi yang harus pupus oleh panas mentari. Tiba-tiba kamu pamit untuk meninggalkan kabit yang
mulai subur ditumbuhi bunga cinta. Terlalu cepat. Tak beriku kesempatan lebih lama
untuk menunjukkan apa yang ku punya di sini. Begitu saja kau menghujamku. Tak ada yang
bisa kulakukan untuk menghentikanmu. Karena aku bukan pemilikmu secara hak.
Aku hanya pengembara yang menikmati keteduhan hati. Kali
ini derai itu tak terbendung lagi. Ia jatuh basahi keybord laptopku. Saksi dari cerita ini.
Perlahan kuseka tangisku dan kubaca pesan akhir darimu.
‘mudah-mudahan kakak dapat yang
lebih baik’. semuanya terasa terlalu cepat. Aku coba untuk tersenyum dalam tangis ini. getir. itu yang kurasa. Perlahan kubuka ruang ikhlas di hati ini. Seolah aku ingat niatku dari awal.
Membuatmu bahagia dan tertawa, dan hanya beberapa hari saja aku mampu melakukan itu.
Bahkan mungkin aku menyebutnya belum mampu. Ah, kamu harus bahagia. Usiamu masih muda.
'Semoga bahagia ‘jelek’'. Semoga ini terakhir kali
kupakai panggilan itu buatmu. Aku pun tak akan datang kedua kalinya dalam hidupmu karena aku takut akulah
yang akan melukaimu saat itu. Terima kasih atas cerita ini.

keren banget kakakk .. !!
BalasHapus