kita selama ini sering nonton film2 indonesia yang kelihatannya udah kehabisan ide. dengan tema hantu yang sedah begitu membosankan, maka bukan karena putra-putri negeri ini nggak mampu. asal teman2 tahu aja ya, Director untuk film sejenis itu bukan buah tangan asli putra-putri negeri ini, melainkan para pendatang yang sepertinya ingin membodohi kita. sebut saja Punjabi bersaudara yang selalu eksis dengan film hantu seabrak, bahkan gak sekali-kali film mereka itu kontorversial.
beberapa hari yang lalu saya browsing di YOUTUBE dan menemukan satu film animasi pendek karya anak negeri ini. sy terharu bahkan karena begitu girang gak terasa air mata saya meleleh. ini serius. ketertarikan saya akan film yang berkualitas sangat besar, sehingga gak heran jika hal itu terjadi. pastinya bukan cuma saya berfikiran demikian, teman-teman juga pastinya. berikut video yang saya maksud:
satu fakta yang perlu kita ketahui bersama, dibalik suksesnya film dunia seprti, SHREK, TRANSFORMER bahkan sampai ke film animasi anak-anak, selalu ada nama-nama putra-putri negeri ini yang bersumbangsi besar.sebut saja Shrek. Dialah Griselda Sastrawinata. Karakter yang lucu-lucu dalam kisah kehidupan si Orgle itu
salah satunya diciptakan oleh Griselda Sastrawinata, seorang animator
yang lumayan lama tinggal di California Amrik. Griselda yang pindah ke Amrik sewaktu masih kelas dua SMA untuk
melanjutkan studi ke Art Center College of Design di Pasadena, AS.
Karena dinilai berbakat dalam dunia gambar menggambar itu, akhirnya ia
diterima bekerja di studio animasi terkenal Dreamwork. Perusahaan film
animasi inilah yang sudah memproduksi berbagai film terkenal seperti
Kungfu Panda,Madagascar,Monster Aliens,serta masih banyak yang terkenal
lainnya.
Selain bekerja di Dreamwork, Griselda mengajar ilmu komunikasi visual di kampus almamaternya. Meski masih enjoy di Dreamwork, ia mengaku tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti berkarya di Indonesia.
![]() |
| Griselda Sastrawinata |
Selain bekerja di Dreamwork, Griselda mengajar ilmu komunikasi visual di kampus almamaternya. Meski masih enjoy di Dreamwork, ia mengaku tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti berkarya di Indonesia.
berikutnya adalah Marsha Cikita. Putri Ikang Fawzi , kiki panggilan akrab anak ikang
fauzi ini saat memulai Karirnya saat ikut program magang di perusahaan
di Las' Copaque Production(rumah produksi yang membuat film animasi
Upin-Ipin). Sejak awal 2010, dia diterima di sana . Bahkan, dia
merupakan satu-satunya orang Indonesia yang bekerja di perusahaan
tersebut. Dia terjun langsung ikut membuat animasi film anak-anak yang
banyak digemari di Indonesia itu.
Meski magang, Kiki sudah dibayar RM 500 (ringgit Malaysia) atau Rp 1.400.000 (kurs 1 RM = Rp 2.800) per bulan. Lantaran pekerjaannya dinilai istimewa, Kiki akhirnya diterima sebagai karyawan dengan gaji lebih besar. Namun, mulai September ini, dia harus mengambil cuti untuk menyelesaikan tugas akhir kuliahnya.
Di rumah produksi tersebut, Kiki mengaku belajar banyak tentang 3D modeller dan setting and background modeller, tapi akhirnya lebih sreg menjadi animator untuk film Upin-Ipin. Animator itu menganimasi setiap shoot adegan. Misalnya, saat Upin berjalan, kakinya dianimasi agar gerakannya pas. Terus, eye blinking, lipsing, dan sebagainya. "Karena itu, seorang animator suka ngaca sendiri sambil ngomong supaya tahu ekspresinya saat membuat animasi," paparnya.
Ada 20 animator di rumah produksi itu dan Kiki adalah satu-satunya dari Indonesia. Saat ini, meski sedang cuti, dia mendapat tugas untuk ikut mempersiapkan Upin-Ipin ke layar lebar. Kiki-lah yang memberikan sentuhan Indonesia dalam film dua anak kampung Malaysia itu.
Misalnya, lewat tokoh Shanty, teman Upin dari Jakarta. Agar benar-benar Indonesia, Kiki memberikan banyak polesan pada tokoh Shanty.
Pada kesempatan lain, seperti dalam episode Berkelah atau Piknik, Kiki memasukkan unsur-unsur Indonesia untuk menyesuaikan dengan tokoh Shanty yang asli Indonesia. Misalnya, membuat animasi kue bakpia, semprong, dan keripik ceker ayam. "Supaya lebih kaya kulturnya. Dan mereka suka," ucapnya bangga.
![]() |
| Marsha Chikita |
berikutnya adalah Cristiawab Lie atau lebih akrab dengan nickname Cris Lie. Desainer animator dari seorang mahasiswa asal Indonesia yang sedang
magang di Perusahaan Komik Devil’s Due Publishing, Chicago, Amerika.
Lebih dikenal dengan sapaan Chris Lie. Sekarang, Chris Lie terlibat
dalam pembuatan animasi di beberapa film produksi Hollywood.
Sebut saja Transformers 3, GI Joe, hingga yang terbaru Spiderman 4.
Bahkan,saat ini dia juga tengah merampungkan beberapa proyek gim,
seperti Starwars dan Lord of the Rings.
Karyanya, Return to Labyrinth, diproduksi Tokyopop Los Angeles, kini
menduduki peringkat keempat komik terlaris di Amerika setelah Naruto.
Bahkan, dari sepuluh besar komik terlaris, Return to Labyrinth
satu-satunya komik yang bukan terjemahan dari komik Jepang. “Itu asli
karya saya,” ujarnya.
| Cristiawan Lie |
Menamatkan SMA di Solo, Christiawan Lie melanjutkan kuliah di Jurusan
Arsitektur Institut Teknologi Bandung. Lulus kuliah pada 1997 dengan
predikat cum laude, Chris Lie pun magangbekerja pada Nyoman Nuarta,
pematung terkenal di Bandung. Ia pun ikut mengerjakan Monumen Garuda
Wisnu Kencana, yang menjadi ikon pariwisata Bali dan Indonesia. Tapi dia
lebih enjoy membuat komik, hingga dia banting setir menjadi Komikus.
Sempat memang di Jakarta International Art Festival pada 2001. dapat
Hadiah berupa tiket penerbangan ke Singapura, hingga memunculkan niat
Chris bekerja di negeri seberang. Beruntung di sana Chris mendapat
hadiah Exhibition Designer dalam Parade Nasional Singapura. Dua tahun
bekerja di Singapura, ia memenangi tiga kompetisi gambar dan ilustrasi.
Kemudian Chris mendapat beasiswa full bright untuk kuliah di jurusan
sequential art (komik) di Savannah College of Art and Design, Amerika
Serikat. Di Negeri Abang Sam, ia sempat magang kerja di perusahaan komik
Devil’s Due Publishing, Chicago. Walau tiap hari kerjaannya cuma
memindai gambar serta menstempel dan mengirim surat, Chris tetap tabah.
“Yang penting saya bisa lihat gambar bagus-bagus,” katanya.
Keberuntungan Chris Lie datang juga ketika Devil’s Due mendapat
proyek GI Joe dari Hasbro, perusahaan raksasa mainan anak-anak di
Amerika Serikat. Chris diminta ikut menggambar sosok GI Joe yang lebih
muda dan trendi. Ia pun menciptakan sosok GI Joe bertubuh besar tapi
dengan bagian kaki mengecil, dan ternyata itulah yang dipilih Hasbro.
Sejak itu ia dipercaya menggarap proyek-proyek Devil’s Due sembari
menyelesaikan kuliahnya di Savannah–karena proyek Devil’s Due bisa
dikerjakan di mana saja.
Rampung kuliah dengan menyabet excelsus laureate– predikat lulusan
terbaik universitas untuk jenjang master–Chris Lie pulang ke Tanah Air.
Lalu ia mendirikan Caravan Studio di Tanjung Duren, Jakarta Barat.
Dengan mempekerjakan enam komikus dari beberapa daerah, Caravan telah
menciptakan puluhan komik. Dari tangannya sendiri tercipta beberapa
komik, di antaranya GI Joe, Transformers, dan Dungeons and Dragons
Eberron.
Tantangan
Setiap karya Chris Lie dihargai paling murah US$ 60 per halaman. Jika
penggarapannya rumit, harganya bisa naik. Caravan telah mampu
mengerjakan pencil, inking, dan colouring. Saat ini 95 persen permintaan
yang masuk ke Caravan berasal dari Amerika, sisanya dari dalam negeri.
Di Indonesia, menurut Chris Lie, perkembangan komik kurang maju.
Kekurangan komik Indonesia, kata dia, terletak pada penulisan cerita.
Padahal kekuatan komik ada pada gambar dan penulisan cerita. “Kalau
gambar, orang Indonesia jago-jago,” ujarnya.
Dengan menekuni komik, Chris Lie telah membuktikan bisa hidup layak,
tidak seperti dulu ketika di Bandung. Ia pun berharap komikus dapat
hidup sejahtera tanpa harus nyambi di luar membuat komik. Ia juga
menyarankan komikus pemula tak malu mempublikasikan karyanya. “Tampilkan
saja di situs dunia maya,” ujarnya.
Andre Surya

Perusahaan
Nama Andre muncul di kredit film Iron Man, Star Trek, Terminator
Salvation, Transformers: Revenge of the Fallen, dan Iron Man 2, sebagai
digital artist. Dia juga terlibat dalam pengerjaan film Indiana Jones
and the Kingdom of the Crystal Skull, Surrogates, juga Transformers:
Revenge of the Fallen.
Pria kelahiran Jakarta, 1 Oktober 1984 ini adalah satu satunya
digital artist asal Indonesia di divisi Industrial Light and Magic (ILM)
Lucas Film Singapore. Lucas Film sendiri adalah salah satu production
company tersukses di dunia, yang didirikan tahun 1971 oleh George Lucas,
sutradara Star Wars.
Reputasi
Lahir di Jakarta, 1 Oktober 1984, Andre adalah satu-satunya digital
artist asal Indonesia. Ia bernaung di divisi Industrial Light and Magic
(ILM) Lucasfilm Singapore. Lucasfilm merupakan salah satu production
company tersukses di dunia, yang didirikan tahun 1971 oleh George Lucas,
sutradara Star Wars.
Sejak kecil ia sudah tertarik pada visualisasi tiga dimensi. Selepas
SMA, lajang berusia 26 tahun itu mengambil studi di Jurusan Desain
Komunikasi Visual Univeritas Tarumanagara, Jakarta. Sempat bekerja di
Polaris 3 D, sebuah perusahaan advertising and architectural
visualization di Jakarta, ia kemudian terbang ke Kanada mengambil
diploma di Film and Special Effects di Vanarts, sebuah sekolah film di
Vancouver.
Tapi, sebagian besar pengetahuan dan keterampilan 3D justru ia
pelajari tanpa training dan sekolah formal. Ia menekuni Computer Graphic
sejak kelas 1 SMA. “Saya suka banget mengerjakan 3D dan saya juga dari
dulu memang ingin bekerja di industri film.
Andre sempat beberapa kali mengantongi penghargaan lokal dan
internasional. Gambarnya yang berjudul Somewhere in the Sky pernah
ditampilkan di CGOVERDRIVE, konferensi Computer Graphic terbesar di
Asia. Gambar itu juga memenangkan Excellence Award di buku Elemental 2
terbitan Ballistic Publishing dan Best Artwork Awards di Indocg Showoff
Book, sebuah buku kumpulan CG art Indonesia.
Karya lainnya, City of Enhasa, juga meraih juara satu di Future World Contest di
Iron Man adalah film pertama yang ia kerjakan. Setelah itu, ia terlibat
dalam penggarapan sejumlah judul film seperti Star Trek, Terminator
Salvation, Transformers: Revenge of the Fallen, dan Iron Man 2.. Ia juga
ikut menggarap Indiana Jones and the Kingdom of the Crystal Skull,
Surrogates, dan Transformers: Revenge of the Fallen.
Harapan
Menurut Andre, 3D sedang menjadi trend di industri film dunia. Ia
menaksir tren itu akan terus bertahan hingga sepuluh tahun ke depan.
Realita itulah yang mesti diantisipasi para pelaku industri film di
tanah air.
Menurut Andre, ada beberapa orang Indonesia yang sangat berbakat dan
punya skill bertaraf International. Saat ini mereka rata-rata bekerja di
perusahaan-perusahaan besar di bidang 3D di luar negeri. “Kalau saja
mereka balik ke Indonesia dan membuka satu perusahaan dengan kualitas
standard International, saya rasa sangat memungkinkan bila Indonesia
menghasilkan film-film dengan kualitas standard International,” katanya.


0 komentar:
Posting Komentar