Siapa yang tidak kenal dengan Syahrini? Penyanyi asal bogor ini
punya pengaruh yang lumayan kuat bagi warga Negara di negeri ini. Segala
sesuatu yang berhubungan dengannya sepertinya selalu menjadi hal yang menarik
untuk diketahui lebih jauh ataupun sekedar membicarakannya tanpa arah yang
jelas. Terkadang ia dianggap pencari sensasi dn sebagainya. Sebut saja tentang
jambulnya yang sempat anyar dan menjadi buah bibir. Yup, JAMBUL KHATULISTIWA
ala syahrini. saya gak tahu inspirasi dari mana yang membuat syahrini ingin
menamai jambulnya demikian. Setahu saya kahtulistiwa itu adalah garis khayal
yang membelah bumi atau Greenwich dan kebetulan Indpnesia tepat berada pada
garis tersebut. Hubungannya dengan rambut berjambul, apa coba? Kalau menurut
saya jambul tersebut lebih mirip gelombang laut pantai Hawaii atau jambul Ee’
kucing. Sebab bagi saya gundukan rambut itu juga lebih mirip anu kucing. Tapi
saya masih salut dengan Syahrini sebab apapun yang di-sensasi-kannya menurut saya dia masih menjunjung tinggi nilai
nasioanalisme. Dengan menamai jambulnya sebagai JAMBUL KHATULISTIWA maka secara
tersirat ia ingin mengatakan bahwa inilah jambul buatan dalam negeri.
Sebenarnya jauh sebelum Syahrini menjdi ‘manusia’ dalam industri
musik Indonesia, jambul sudh menjadi tatanan style yang mumpuni dibelahan bumi.
Banyak entertainer dunia yang telah menggunakannya. Tapi mengapa menjadi buah
bibir saat syahrini yang menggunakannya?? Itulah yang akan kita bahas setajam
KAPAK. Seolah-olah sesuatu yang agak ‘tabu’ untuk diketahui menjadi layak tuk
diperbincangkan setelah Syahrini yang menggunakannya. Semuanya terangkum dalam
postingan investigasi KAPAK
(kumpulan analisa dan pemikiran kesetanan). Itulah syahrini yang selalu punya
sesuatu. Sesuatu yang selalu membuatnya terlihat sesuatu. Itulah sesuatu.
Syahrini memang sesuatu (alhamdulillh yah, gue udah mulai gilaa!!!).
Saya bukanlah penggemar fanatic syahrini. jika pertanyaannya mengapa
tema dan objek postingan saya Syahrini, adalah karena menurut saya dibalik
pro-kontranya ada banyak pelajaan yang bisa kita ambil. Di antaranya:
1. Jambul
“Khatulistiwa”
Kehebohan akan jambul ini bermula saat bertandangnya
LA GALAXY ke Indonesia dalam rangka tur kemenangan. Kehadiran TIM sepak bola
asal amrik ini menyedot perhatian masyarakat karena salah satu pemainnya
merupakan bintang sepak bola terkenal. Dialah si DAVID BECKHAM. Berbagai media
telah gencar memberitakan perihal akan merumputnya si Becks di negeri Garuda
ini. Lebih gilanya lagi dari anak-anak sampai lansia sibuk dengan tema ini
berita tersebut (lebay..). suatu saat saya berada disebuah warung makan tuk
bersantap siang. Ada banyak pengunjung dalam warung tersebut termasuk
emak-emak. Salah seorang dari mereka berceloteh dengan logat bugisnya,
“Kenapa na ini terus yang diberitakan? Tidak ada adami
berita lain kah?”
“Iyo, pusingka juga liatki” sambung emak yang satunya
lagi.
“itu bekkang (Beckham)
kambing dari manakah? Tidak adami rumput di kampunna
(Negaranya) sampai ke indonesiaki (hingga harus ke Indonesia segala)?”
tambahnya lagi.
Saya hampir tersedak mendengar mendengar kata-kata ibu
tersebut. Agak geli juga. Bagaimana tidak, sebab ibu ini telah salah paham
tentang berita yang ditontonnya. Ini mungkin disebabkan oleh berita-berita yang
dalam penyampaiannya terlalu retoris sehingga bukannnya malah mengerti akan
berita yang sebenarnya melainnkan menimbulkan opini-opini baru. Bayangkan saja
kalo misalnya berita atau infotainment bilang gini: …”sejatinya kehadiran Beckham mencoba rumput Stadion Gelora Bung Karno
akan menjadi kebanggaan tersendiri bagi warga Negara pada umumnya dan bagi
Indonesia pada khususnya. Tak bisa dipungkiri ini adalah moment berharga bagi
garuda sebab bisa secara langsung berhadapan dan menjajal keganasan dengan si
pemilik tendangan pisang.” Orang yang gak tahu menahu perihal sepak bola
berpikir akan ada adu kambing melawan garuda di GBK. Trus kambingnya nendang
pake pisang. Setelah itu kambing dan garuda tersebut sama-sama makan rumput.
Itulah negeri kita. Orang pada sibuk bicara dengan kata dan
kalimat yang bahkan mereka sendiri tidak mengerti sementara disisi lain
pemerataan pendidikan di Negeri ini masih sangat minim.....
.....
(to be continued in 'Syahrini oh Syahrini 2')
0 komentar:
Posting Komentar