Kamis, 08 Desember 2011

My Curve Hair-Phony and My “nyeleneh” Eyebrow.

Nama dan logat dalam cerita ini sengaja di dramatisir ala anak gaul. Bukan maksud tuk tidak menghargai tanah kelahiran, Cuma tak enak juga mesti menulis dengan segala kepolosan anak-anak jaman (Zaman kale) gue yang ngomon-nya okkots. Soalnya gue nggak terbiasa dengang ke-OKKOTs-an. Secara gue kan anak gaul (Gatta Ulu : Ketobe parah), kece lagi.

Gue memang terkenal dengan karakter stail yang beda. Termasuk ngupil dan beol sembarangan. Mo di taman, restorant dan apa saja, Eh enggak, becanda. Kata orang-orang sih gitu. Amar tuh stailnya kece-kece kecoak gitu. Hal itu emang udah Nampak dari diri gue semenjak masih SD. Yah, biasalah anak-anak SD yang masih polos-polos oblong kayak anak Mahmud, eh maksud gue marmut. Selalu pengen mencoba dan bereksperimen yang aneh-aneh. Khayalan gue juga selalu kacau. Misalnya, gue kadang mikir gimana ya rasanya kalo lobang idung tuh menghadap keatas? Atau bemana kalau pantat tuh di mulut gue? (yah, makan selai dong!!!). termasuk dalam hal stail. Misalnya, dulu pas lagi cukur botak rambut gue dikepang 3 (emang bisa???) ato pake poni di belakang kepala (itu mah durang-durang).
Suatu hari di sekolah gue bakal diadakan pemotretan untuk anak kelas 1. Lebih tepatnya take gambar tuk buku rapor. Ya, sebagaimana lazimnya fotonya hitam putih. Secara waktu itu belum ada teknologi digital. Masih pake roll film. Tapi teknologi tak bias menghalangi harsat kita tuk pamer gaya. Kata bu gurunya poto-potonya (pengambilan gambar maksudnya) nanti dilakukan sehabis istirahat. Rencana tersusun rapi. Sebelum take kita bakal berdandan di rumah teman. Itu kesepakatannya. Semua udah ngumpul. Maka acara permak diri dimulai. Teman pada sibuk. Ada yang bercukur bulu halus (WARNING! Bulu yang belakang leher dan kumis). Secara waktu itu teman-teman gue udah pada gede-gede. Ada yang motong rambut, utamanya bagian depan. Banyakan potongannya lurus aja. Gue sih litany tampan teman-teman gue udah kayak ikan kepe-kepe yang udah disirip. Muka mereka kelihatan bugil, eh bego maksud gue. Tak mungkin gue kayak mereka, pikir gue dalam hati. Gue harus beda!!!
Giliran gue. Gue ambil gunting. Tapi masih mikir apa iya potongannya lurus juga. Oh, nggak!! Harus beda. Harus. Tapi gimana ya? Sempat bingung mo diapain ini muka. Gue ambil gunting. Potongnya mulai dari rambut yang agak kepanjangan. Jadi, poni diratakan dulu. Lalnjut! Satu inspirasi muncul. Bagaimana kalo potongan kurva? (kayak nama buah aja!; itu KURMA). Kcrekkk! Rambut yang merupakan mahkota gue berguguran. Mantap! hati gue mengatakan harus lebih melengkung nih potongannya. Sekali lagi, kcrekk!!! Suara gunting yang bergesekan dengan rambut semakin menggairahkan. Pengennya rambut diplontos aja. Gue manyun-manyun natap cermin. Alis dinaikkan sekali. Sip mantap. Jidat gue udah kayak mistar penalty lapangan bola. But, wait!!! Ada yang kurang. Gue menatap alis gue dengan teliti. Pikir gue, alis yang agak ketebalan ini perlu ditipisin biar kayak pemain kung fu yang biasa saya liat. Hasrat tuk bereksperimen kembali merajai benak gue.
“Di, cukuran bokap lo yang tadi mana?” Tanya gue ke Dedi teman gue yang rumahnya dijadikan salon dadakan.
“itu, di atas meja. Tapi udah agak tumpul”. Seraya Dedi nunjuk ke arak meja tempat pisau cukur itu tergeletak. Seolah-olah pisau itu berkata “sini lo gue gigit alis lo!”
Parno juga sih pas liat pisau siletnya yang agak berkarat. Tapi, masa gara-gara itu aja alis gue nggak bias tampil seksi. Masa bodo’. Mulai lah gue mencukur alis sisi bagian bawah sebelah kanan. Tapi, apa mo dikata hasilnya gak terlalu halus. Tapi, it’s fine. Yang penting udah agak titpisan. Giliran yang kanan. Crek!! Crek!! Alis gue juga berguguran dengan dengan pasrahnya. Seolah mereka berat tinggalkan mata besar ini. Yes! It has finished! Gue senyum puas depan cermin sambil naikin alis. Suit. Mantap. Tapi sekali lagi mata gue mentap tajam yang kemudian menjadi tatapan nanar. Mak!! Kok tinggi sebelah sih? Ada yang salah kayak. Saya meraba cerminnya sapa tau ada yang retak sehingga pantulannya tidak simetris. Oh, cerminnya sempurna. Berarti alis gue yang kagak sempurna. Oh God! Gue temukan kesalahannya. Ternyata yang sebelah kiri, saya cukur sisi atasnya sementara yang kanan sisi bawahnya.
Oh no!! tidak!!!
“hahahhahahahahahhah” tawa lepas terbahak-bahak dari teman gue membahana.
“Ini gara-gara cukuran bokap lo yang tumpul” gue melemparkan kesalahan pada cukuran yang masih tergenggam di tangan.
“kayak burung bangau yang lagi belekan tampan lo, huahahahiaaaa”
Sialan, Dahris ngatain gue bangau belekan. Ketawanya kayak puas melihat derita gue. Gue liat-liat, rambut teman-teman gue udah pada rapi, hitam dan licin. Gue yakin kalo ada lalat yang hinggap pasti kepleset. Licin abis dah.
“pake minyak rambut apa lo pada?” Tanya gue. Lebih tepatnya Tanya IRI.
“minyak kelapa!!” jawab Nawir temen gue yang rambutnya agak kriting. Tapi karena kebanyakan minyak, kritingnnya nggak keliatan lagi. Malah kepalanya lebih mirip kuali.
“hah??? Minyak kelapa?”
“bokap gue juga biasa make’nya” jawab Dedi.
“ ya udah, mana minyaknya?” gue pasrah aja. Dari pada rambut-poni-kurva gue kering.
“tuh, dekat tungku. Botol warna ijo”
langkah gue gontai menuju botol ijo yang dimaksud. Gue tuang ke tangan. What? Minyaknya abis. Stress. Gue goncangin tuh botol. Nihil.hasilnya sama. Tak setetespun yang keluar.
“minyaknya abis!! Ada yang lain gak?” Tanya gue dengan nada kepanikan.
“nggak ada lagi kayaknya”. Jawab Dedi.
“jadi, pake apa gue?”
“kayaknya masih ada tuh tapi dikuali. Tinggal itu doang. Soalnya yang tadi tuh sisa goreng ikan mak gue tadi pagi”.
“sisa gorengan?” Tanya gue shock
“iye, daripada lo nggak make. Kalo nggak mau ya udah”. Dengan terpaksa gue usapkan minyak goreng beraroma ikan teri itu ke rambut berponi gue. Hanya dalam sekejap lalat berdisko di kepala ini. Pasrah.

Sesampainya disekolah, ternyata tinggal kami berempat yang belum. Orang-orang pada kerumunan. Biasa orang kampung baru liat kamera. Atau mungkin pengen liat muka-muka ancur saat dijepret kamera hitam putih ber-roll. Jadilah saya dan teman-teman tontonan gratis. Tawa, cemooh, semuanya menyatu. Dan yang lebih menyakitakan semua itu buat gue. Buat poni kurva-alis “nyeleneh” plus aroma minyak goreng rambut gue. Hilanglah pesona ini. Ancur stail ini. Tak terasa air mata ini meleleh di pipi.(cengeng, alay lo. yang nyuruh lo bereksperimen sapa?)

But it’s me. It’s my curve hair-Phony and my “nyeleneh” eyebrow. Tetap menjadi Amar yang PAGAYA

0 komentar:

Posting Komentar

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html