Kamis, 22 Desember 2011

THE LIFE IS MATTER CHOISE

Mohon atas kesamaan/kemiripan nama,kejadian dan tempat dalam tulisan ini. Tak ada maksud tuk merendahkan.

Hidup itu adalah pilihan. Begitulah kata orang bijak. Manusia itulah sendiri yang menentukan pilihan hidupnya akan mengalir kea arah mana. Tapi bagaimana rasanya jika pilihan hidup itu justru membuat kita tersisih dari alur dan riak kehidupan. Bagaimana rasanya jika anda memilih untuk menjadi sesuatu yang bukan diri anda. Bukan seperti yang tersurat dari pentunjuk fisik yang Tuhan anugerahkan. Lebih sederhana saya ingin mengajak teman-teman sekalian untuk merenung ukiran takdir bagi para WARIA atau yang lebih keren dengan istilah BANCI a.k.a BENCONG. Ketika anda bertanya kepada mereka mengapa memilih hidup seperti itu, maka beragam jawaban yang akan mereka berikan. Misalnya:
“mega, (nama aslinya Abu Bakar)…kok lo milih jadi banci?” “gue dulu pernah disakitin ama cewek gue. Dia kawin ma laki-laki lain”.
“kok lo ga kawin juga?”
“sakit banget hati gue. Sejak saat itu gue bersumpah gak mau lagi ada wanita dalam hidup gue?”
Gue hamper netesin air liur dengarin Mega curhat. Gue bertanya balik ke dia,
“berarti mak lo, gak lo anggap dong?”
Dia natap gue seolah-olah pengen jitak. Abis mungkin pertanyaan gue gak ada nyambungnya kali ya (nah, lo tau. Trus napa nanya BAKIAKKKK!!!).
Itu adalah salah satu alasan yang membuat mereka memilih kehidupan mereka.
Ada pula alasan lain yang sering mereka lontarkan. Suci misalnya (nama di KTPnya Heriyanto).
“gue nyadar kalo ini dosa. Tapi gue juga nggak bisa pungkiri bahwa hanya casing gue laki.” Jawab Suci waktu gue Tanya.
”tapi jiwa gue wanita….perasaan gue lembut dan sensitive…hiks hiks..hiks” lanjutnya sambil terisak. Gue nunduk terharu seolah merasakan bebannya. Tanpa sengaja gue melihat bulu-bulu betis Suci nongol dicelah kain stocking pink yang dipakainya. ala mak, gak pernah cukuran kali ni manusia”Gue membatin.

Agak susah juga tuk nerima alasan-alasan tersebut. Kalo misalnya alasan sakit hati pada lawan jenis?? Ya, gimana ya? Trus alasan sensitifisme? Saya rasa semua manusia juga sensitive dan bahkan sangat sensitive. Kalo gak percaya lo bisa tes deh. Kalo pas duduk dengan teman atau siapa aja. Trus bilang gini,”eh, tau gak. Kalo gue perhatiin makin hari tampang kamu kian berbeda ya. Kamu gak nyadar kan?. Iya, gue serius, lo makin mirip kebo”. Saran gue tuk percobaan diatas cari teman yang kira-kira kukuatannya di bawah level kamu, trus begitu kalimatnya titik, langsung kabur aja. Ini tuk menjaga keselamatan jiwamu.

Terlepas dari alasan-alasan yang menurut gue gak ngaruh, ada sebuah pelajaran berharga dari hidup mereka. Kebetulan gue punya banyak teman (atau lo,..jangan-jangan..???), gak…gak. Gue bukan bagian dari mereka. Anu gue berdiri kok, sumpah!.
Jadi gini, ternyata disetiap kekurangan pasti kelebihan. Teman-teman kita yang “sensitive” itu ternyata sangat peduli dengan sesamanya. Waktu itu gue ke salon langgan gue tuk potong rambut (ya, gue juga tahu. Nggak mungkin ke salon buat ngurus KTP). Saat itu terjadi percakapan diantara mereka. Sementara gue masih nunggu gilran tuk dicukur.
“cece, kemana sih? Tanya si Sissy yang duduk di kasir. “iya ya. Sampai tadi malam dia belum pulang mami” sambung Chelsea.
Gue nengok kiri kanan mencari subjek mami yang kedua banci tersebut maksudkan. Muncullah manusia tinggi dengan badan kekar beralis tipis dengan handuk yang membalut kepalanya. Gue gak terlalu yakin alisnya di cabutin atau cukur trus dilukis tatto. Dressnya bo, pake short warna krem dengan tanktop putih. Pengennya mungkin telihat seksi dengan dandanan itu. Tapi apalah danya, badannya yang kekar justru membuat dia lebih mirip si HULK yang lagi marah. Pusarnya kemana-mana ditambah kantung semar yang ada diselangkannya yang SUPER GEDONG nyembul tanpa ampun. Asli, gue pengen boker ngeliat tampangnya.
“pergi melacul kali tuh betina. Dasal gak bisa dibilangin” sahut mami. Gue baru sadar ternyata si Mami gak bias bilang “R”.
“eh, mami pelingatin buat yang lain ya, jangan sampe ada yang kayak si Cece gak pulang. Mami gak suka,…mami itu….”omelannya terpotong oleh suara yang muncul bersamaan seseorang muncul di pintu.
“cece pulang!!!” teriak si banci muncul sambil berlari dan langsung memeluk si Mami.
“dali mana aja lo? Melaculll???” bentak si Mami
Cece tetap diam dan malah lebih kencang meluk si Mami
“kita semua khawatir tau nggak. Kita takut terjadi sesuatu ama kamu” timpal si banci yang duduk di kasir. Si mami trus ngomel-ngomel. Bahkan ia menitikkan air mata sambil menghapus air mata yang berderai di pipi si Cece.
Sementara Cece trus memeluk mami seolah memohon maaf. Dari adegan yang gue liahat, bias tergambar jelas kalo si mami sebenarnya penyayang. Si Mami telah dianggap sebagai ibu dari banci-banci yang lainnya. Dalam dunia per-salon-an dan Banci community, si Mami adalah oaring yang paling dituakan dan berpengaruh. Itu yang gue tahu.
“mami sayang ama kalian semua. Mami gak ingin kalian kenapa-napa” kata si mami sambil trus megusap rambut Cece
“mami kan seling bilang, kita ini bagai celmin. sekali letak gak mungkin lagi tuk bisa utuh. Gimana coba kalo kamu hamil??? Tlus laki-laki itu gak mau bertanggungjawab. Bukan Cuma kamu yang belsedih tapi mami dan yang lainnya juga”. Sambung mami dengan panjang lebar. Bagai petir manjat tebing di siang bolong! Gue terperanjat sekalian geli bercampur salut atas kata-kata si Mami. Apa iya mereka bisa hamil? Batin gue dengan bodohnya. Sampe kamu oprasi transgender juga gak bakalan kali.
Tapi gue dapat pelajaran penting dari mereka, yaitu kepedulian dan kehatian-hatian. Tak jarang dalam hidup ini kita melakukan sesuatu di luar pemikiran dan rasa hat-hati. Dan bisa ditebak penyesalanlah akhirnya. Hidup memang adalah pilihan, tapi anda harus berhati-hati dalam memilih. Pelajaran kedua adalah kepedulian. Tanpa disadari,kita dibentuk oleah zaman menjadi insan yang individualistis.. Padahal Tuhan telah menciptakan semua makhluk tanpa ada yang sia-sia. Bahkan saudara-saudara kita yang banci. Gak ada satupun yang ingin memilih tuk menjadi seperti itu. Mereka bukan untuk dibenci atau dijauhi. Banyak pelajaran hidup yang bisa kita ambil dari mereka. Sebagai bentuk kepedulian kita adalah membantu mereka tuk menemukan kembali pilihan hidup yang harus mereka pilih. Paling tidak dengan do’a, karena hidup adalah pilihan.

0 komentar:

Posting Komentar

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html